TERASBATAM.ID — Wakil Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam yang juga Wakil Walikota Batam Li Claudia Chandra memberikan ultimatum keras kepada pengelola air bersih, PT Air Batam Hilir (ABH), menyusul krisis suplai yang tak kunjung usai di sejumlah wilayah. Claudia menegaskan tidak segan untuk meninjau ulang hingga memutus kontrak kerja sama jika perusahaan tidak mampu menjamin ketersediaan air bersih 24 jam bagi warga.
Dalam sebuah pertemuan tertutup bersama pihak pengelola air (ABH) dan pihak terkait, Claudia menuntut transparansi dan langkah nyata untuk mengakhiri penderitaan warga.
Dalam video yang diunggah melalui akun media sosial pribadinya, Claudia mempertanyakan ketidakkonsistenan distribusi air yang sering mati mendadak tanpa alasan yang jelas. Ia menyoroti kondisi di Tanjung Sengkuang di mana air terkadang baru mengalir setelah satu minggu terhenti.
“Kalau kita bicara ini itu, biasanya nyala kok. Kenapa tiba-tiba tidak nyala? Masalahnya apa?” tegas Claudia dalam rapat tersebut.
Ketegasan tersebut disampaikan Claudia dalam pertemuan evaluasi bersama pihak pengelola dan instansi terkait di Batam, menyusul keluhan warga Tanjung Sengkuang yang kerap mengalami mati air hingga satu tahun terakhir. Claudia menyoroti ketidakkonsistenan distribusi yang terjadi secara mendadak tanpa alasan teknis yang dapat diterima masyarakat.
“Saya tidak mau tahu soal kontrak-kontrak yang ada sebelum zaman saya. Fokus saya adalah masyarakat mendapatkan air. Jika tidak bisa memberikan pelayanan yang baik, ya sudah kita putus saja (kerja samanya). Kita cari yang bisa,” ujar Claudia dengan nada tinggi, sebagaimana terekam dalam koordinasi tersebut, Jumat (23/1/2026).
Kendala Teknis di Lapangan
Menanggapi tekanan tersebut, pihak pengelola menjelaskan bahwa distribusi air ke arah wilayah terdampak saat ini mencapai rata-rata 220 liter per detik. Namun, tantangan besar muncul pada sistem pemompaan kembali (re-pumping) untuk menyuplai wilayah Sekupang dan Batu Ampar.
Meskipun pengelola mengklaim telah terjadi peningkatan debit air secara bertahap sejak awal pekan, Claudia menilai penjelasan teknis tersebut tidak berarti jika masyarakat di ujung pipa, seperti di Tanjung Sengkuang, tetap tidak merasakan dampaknya. Ia mendesak adanya solusi konkret jangka pendek yang dapat langsung dirasakan warga.
Claudia menekankan bahwa visi pelayanan air bersih di Batam harus mengarah pada ketersediaan penuh selama 24 jam, bukan sekadar aliran air yang bersifat fluktuatif. Ia juga meminta penguatan koordinasi di tingkat teknis antara direktur dan deputi di lapangan agar kendala operasional dapat diatasi lebih cepat.
“Ke depan, jika memang ingin melanjutkan kerja sama, standar layanannya adalah air harus mengalir 24 jam,” pungkasnya.
Hingga saat ini, gangguan suplai air di beberapa titik di Batam masih dilaporkan terjadi. Masyarakat kini menunggu apakah ancaman pemutusan kontrak ini akan memicu perbaikan signifikan pada sistem distribusi air bersih di kota industri tersebut.


