TERASBATAM.id – Berdiri megah di Jalan Veteran, menghadap tenang ke aliran Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta, Istana Negara menyimpan lebih dari sekadar kemegahan arsitektur kolonial. Bangunan yang kini menjadi saksi bisu denyut nadi pemerintahan Republik Indonesia ini, ternyata menyimpan jejak panjang sejarah, dari kediaman pribadi seorang warga Belanda hingga menjadi panggung berbagai peristiwa penting bangsa.
Jika Istana Merdeka di belakangnya menghadap gagah ke Taman Monumen Nasional, keduanya terhubung harmonis melalui Halaman Tengah yang luas. Lebih dari sekadar bangunan utama, kawasan Istana Negara adalah sebuah kompleks yang menaungi Kantor Presiden, Wisma Negara, Masjid Baiturrahim, dan Museum Istana Kepresidenan, membentuk sebuah ekosistem kekuasaan di jantung ibu kota.
Dari “Hotel Gubernur Jenderal” hingga Simbol Kemerdekaan
Siapa sangka, bangunan ikonik ini dulunya adalah rumah tinggal seorang warga Belanda bernama J.A. van Braam. Dibangun secara bertahap antara tahun 1796 hingga 1804, di era pemerintahan dua Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Pieter Gerardus van Overstraten dan Johannes Sieberg, kediaman pribadi ini kemudian beralih tangan pada tahun 1816. Pemerintah Hindia-Belanda melihat potensi strategisnya dan menjadikannya pusat kegiatan pemerintahan sekaligus kediaman resmi para Gubernur Jenderal. Tak heran, julukan “Hotel Gubernur Jenderal” melekat erat padanya.
Di balik dinding-dinding kokohnya, Istana Negara menjadi saksi bisu berbagai intrik dan keputusan penting masa kolonial. Di sinilah, Jenderal de Kock memaparkan rencananya kepada Gubernur Jenderal Baron van der Capellen untuk menumpas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strategi menghadapi Tuanku Imam Bonjol. Di tempat yang sama pula, Gubernur Jenderal Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel yang kelak membawa dampak besar bagi masyarakat pribumi.
Namun, sejarah Istana Negara tak berhenti di era penjajahan. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini justru menjadi panggung penting bagi pengakuan kedaulatan bangsa. Pada tanggal 25 Maret 1947, di sinilah naskah Persetujuan Linggajati ditandatangani, sebuah tonggak penting dalam perjuangan kemerdekaan, dengan Sutan Sjahrir mewakili Indonesia dan Dr. van Mook dari pihak Belanda. Setahun kemudian, pada 13 Maret 1948, Istana Negara kembali menjadi tempat pertemuan empat mata antara Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Letnan Gubernur Jenderal Dr. Hubertus J. van Mook, menunjukkan betapa sentralnya bangunan ini dalam dinamika politik kala itu.

Transformasi Arsitektur dan Fungsi yang Dinamis
Bangunan Istana Negara mengalami beberapa kali perubahan fisik. Awalnya, rumah Van Braam ini memiliki dua tingkat. Namun, pada tahun 1848, lantai atasnya dirobohkan dan bagian depannya diperlebar untuk memberikan kesan lebih resmi dan megah, sesuai dengan status penghuninya. Di sisi kiri dan kanan bangunan utama, dibangun akomodasi bagi para kusir dan ajudan Gubernur Jenderal.
Selain sebagai kediaman, gedung ini juga menampung fungsi sekretariat umum pemerintahan. Kantor-kantor sekretariat itu berlokasi di bagian bangunan yang menghadap ke sebuah gang, yang kemudian dikenal dengan nama Gang Secretarie. Seiring bertambahnya kegiatan pemerintahan, bangunan lama ini tak lagi mampu menampung semuanya. Pada tahun 1869, Gubernur Jenderal Pieter Mijer mengusulkan pembangunan “hotel” baru di belakang “Hotel Gubernur Jenderal” di Rijswijk (kini Jalan Veteran). Arsitek Drossares dipercaya merancang gedung baru yang menghadap Koningsplein (kini Lapangan Merdeka), yang kelak dikenal sebagai Istana Merdeka. Pembangunan gagasan ini baru rampung sepuluh tahun kemudian, sementara bangunan lama yang menghadap Rijswijk terus diperluas.
Pasca kemerdekaan, fungsi Istana Negara semakin beragam. Selain menjadi kediaman resmi Presiden, istana ini menjadi pusat kegiatan pemerintahan negara. Berbagai acara kenegaraan penting diselenggarakan di sini, mulai dari pelantikan pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, hingga kongres berskala nasional dan internasional. Jamuan kenegaraan bagi tamu-tamu penting negara juga menjadi agenda rutin di istana ini.
Meskipun Istana Merdeka kini lebih sering difungsikan sebagai kantor Presiden, Istana Negara tetap memegang peran penting dalam acara-acara seremonial. Setiap peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Istana Negara menjadi tempat jamuan makan Presiden dan para veteran. Begitu pula saat kedatangan tamu negara, jamuan makan malam kenegaraan dan pertunjukan seni tradisional Indonesia dari berbagai daerah dengan beragam tema dan dekorasi memukau digelar di sini, menampilkan kekayaan budaya bangsa.
Elegansi Arsitektur dan Ruang-Ruang Bersejarah
Sentuhan arsitektur Palladio begitu terasa pada eksterior Istana Negara, dengan pilar-pilar bercorak Yunani yang anggun. Bagian depan istana menampilkan 14 pilar dengan ukuran yang serasi. Serambi Istana Negara tampak sedikit lebih sempit dibandingkan dengan Istana Merdeka, namun tetap memancarkan kemewahan. Serambi ini dapat diakses melalui dua anak tangga di sisi kanan dan kiri, dan bagian depannya dihiasi pagar balustrada yang klasik.
Memasuki bagian dalam, Istana Negara memiliki dua balairung utama: Ruang Upacara dan Ruang Jamuan. Sesuai namanya, Ruang Upacara menjadi tempat penyelenggaraan upacara-upacara resmi kenegaraan. Di masa Hindia Belanda, ruangan ini berfungsi sebagai ballroom untuk pesta-pesta dansa yang meriah. Kini, di ruang upacara tersedia dua perangkat gamelan, Jawa dan Bali, yang ditempatkan di sisi timur dan barat podium selatan. Jika upacara memerlukan iringan lagu kebangsaan, korps musik dari Pasukan Pengaman Presiden akan ditempatkan di serambi belakang yang terhubung langsung dengan podium. Auditorium ini mampu menampung hingga seribu hadirin berdiri atau 350 hadirin duduk. Sementara itu, Ruang Jamuan digunakan untuk jamuan kenegaraan atau sebagai ruang bagi para tamu untuk beramah-tamah setelah acara resmi. Ruangan ini dapat menampung hingga 150 orang.
Serambi depan yang terbuka, menghadap Jalan Veteran, menyambut tamu melalui anak tangga di kedua sisinya. Melalui pintu-pintu kaca, pengunjung akan tiba di ruang depan, yang berfungsi sebagai tempat bertukar cenderamata antara dua kepala negara sebelum memasuki Ruang Jamuan. Di ruangan ini, tiga kandelabra besar dan sepasang cermin antik setinggi hampir tiga meter menambah kesan megah dan bersejarah.
Dari ruang depan, sebuah koridor menghubungkan ke Ruang Jamuan. Di sepanjang koridor ini terdapat beberapa ruang khusus. Di sisi barat terdapat suite untuk Wakil Presiden dan ruang tunggu tamu Presiden. Ruang tamu Presiden ini dulunya adalah Ruang Pusaka, tempat menyimpan berbagai benda-benda bersejarah. Di ruangan inilah Presiden menerima tamu-tamunya.
Di sisi timur koridor, terdapat ruang kerja Presiden. Di dalamnya terdapat sebuah meja kerja besar, kursi kerja Presiden, dua kursi hadap, dan sebuah lemari panjang untuk menyimpan berbagai benda seni. Di belakang ruang kerja ini, terdapat ruang istirahat dan ruang makan pribadi Presiden.
Istana Negara bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah lembaran sejarah yang hidup, saksi bisu perjalanan bangsa dari era kolonial hingga kemerdekaan. Lebih dari sekadar pusat pemerintahan, istana ini adalah simbol kedaulatan, tempat di mana keputusan-keputusan penting diambil dan tradisi kenegaraan dijaga. Mengunjungi Istana Negara adalah menyelami jejak waktu dan memahami betapa panjang dan berlikunya jalan yang telah ditempuh bangsa ini.


