Letkol Inf Yudi Satria Prabowo, yang pernah 15 bulan menjaga perdamaian di Afrika, kini memimpin 450 prajurit Tuah Sakti menuju Papua. Misinya: memenangkan hati rakyat di tengah tantangan cuaca ekstrem.
TERASBATAM.ID — Letkol Inf Yudi Satria Prabowo menundukkan kepala, memimpin 450 prajuritnya dalam keheningan doa. Di hadapan mereka, bukan hanya sanak keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bayangan Puncak Jaya yang dingin, medan tugas pengamanan perbatasan (Satgas Pamtas RI–PNG) yang menanti selama satu tahun penuh.
Bagi Komandan Batalyon Infanteri Raider Khusus 136/Tuah Sakti ini, Papua hanyalah babak lanjutan dari perjalanan pengabdian panjangnya. Jauh sebelum menjejakkan kaki ke ujung timur Indonesia, ia pernah menjadi duta perdamaian Indonesia di belahan bumi lain.
“Saya pernah bertugas di UNMISS (United Nations Mission South Sudan) sebagai peacekeeper selama 15 bulan,” ujar Letkol Yudi (39), alumni Akmil 2007, saat ditemui usai memimpin doa bersama di Markas Yonif RK 136/Tuah Sakti, Batam, Rabu (12/11/2025).
Di Sudan, di tengah konflik perang saudara yang memanas, Letkol Yudi belajar prinsip utama prajurit perdamaian: netralitas dan imparsialitas—melindungi warga sipil tanpa memihak. Pengalaman itu menjadi fondasi yang akan ia bawa ke Puncak Jaya.
“Di sana saya belajar, bahwa di manapun prajurit Indonesia bertugas, entah di Afrika atau di Papua, nilai utamanya tetap sama: kemanusiaan,” tegas putra asal Kampar, Riau, ini.
Persiapan Matang Hadapi Minus Nol Derajat
Jelang keberangkatan 17 November, 450 prajurit Yonif RK 136/Tuah Sakti telah ditempa persiapan sejak Januari 2025. Rangkaian latihan meliputi tahap basis di Batam, sistem blok di gunung-hutan, hingga latihan pratugas selama sebulan di Pusdiklatpassus, Cipatat, Bandung, mulai 22 November.
Tantangan utama yang menanti mereka bukanlah semata ancaman kelompok bersenjata, melainkan cuaca ekstrem.
“Di Batam panas, sementara di Puncak Jaya, suhu malam bisa mencapai 4 derajat Celsius, bahkan bisa sampai titik beku (0 derajat Celsius),” jelas Letkol Yudi. “Kami harus cepat beradaptasi dengan iklim dan budaya lokal, seperti makan pinang dan bakar batu, agar bisa diterima masyarakat.”
Ia menegaskan, tugas Satgas adalah “memenangkan hati dan pikiran rakyat” (winning heart and mind). “Kami berangkat bukan untuk perang, tapi untuk membawa damai, menjaga saudara-saudara kita, dan memastikan merah putih tetap berkibar.”
Pendidikan, Bentuk Nyata Pertahanan
Misi memenangkan hati rakyat ini selaras dengan pengalaman perwira muda Batalyon, Letnan Satu (Lettu) Inf Ola Ditya Prabowo (Akmil 2021), yang pernah bertugas di Papua Barat pada 2022.
“Sukanya banyak, terutama saat bisa berinteraksi dengan anak-anak Papua. Kami sering datang ke sekolah untuk mengajar dan memberi semangat belajar,” cerita Lettu Ola.
Ia menyadari bahwa pendidikan adalah isu sensitif. Banyak anak yang memilih membantu orang tua berkebun daripada sekolah. “Kami mendatangi rumah-rumah mereka, menjelaskan pentingnya pendidikan. Kalau anak-anak bisa membaca, menulis, dan punya mimpi, maka itulah kemenangan sejati,” ujarnya.
Meski demikian, tugas di Papua penuh risiko. Letu Ola mengenang sempat mengevakuasi empat jenazah korban serangan kelompok bersenjata di Moskona Barat. Namun, peristiwa kelam itu justru memperkuat tekadnya.
“Papua bukan tempat yang harus ditakuti, tapi disayangi. Di sana banyak saudara kita yang tulus dan bersahabat,” tambahnya.
Malam itu, diiringi lantunan doa dari anak-anak yatim, 450 prajurit Tuah Sakti bersiap meninggalkan kenyamanan Batam. Mereka membawa janji: pengabdian adalah panggilan jiwa.
[kang ajank nurdin]


