TERASBATAM.ID – Riuh rendah perselisihan di Perumahan Citra Mas, Kelurahan Batu Besar, Batam, akhirnya surut bukan di meja hijau, melainkan di genggaman tangan yang saling berjabat. Syahdan, hubungan bertetangga antara Raf dan Gus sempat memanas hebat. Tak sekadar adu mulut, sebilah benda tajam bahkan sempat keluar dari sarangnya, menebar ancaman di udara RW 05.
Melihat bara yang hampir menjadi api, Aipda Wadilhot tak tinggal diam. Sebagai Bhabinkamtibmas setempat, ia tahu betul bahwa hukum formal kadang terlalu dingin untuk urusan “panas” antar-tetangga. Maka, dimulailah operasi senyap bertajuk mediasi.
Pertemuan tak cukup sekali. Ibarat menyeduh kopi yang nikmat, proses pendamaian ini butuh kesabaran. Pertemuan pertama gagal, kedua buntu, ketiga mulai melunak. Baru pada kencan keempat, Rabu pekan lalu, hati kedua pria ini luluh. Di bawah pengawasan Kapolsek Nongsa Kompol Eriman, ruang mediasi yang mulanya tegang berubah menjadi cair.
“Pendekatannya harus humanis. Kita kedepankan rasa kekeluargaan,” ujar seorang petugas di sana.
Hasilnya? Gus dan Raf sepakat mengubur kapak perang. Sebagai mahar perdamaian, benda tajam yang tempo hari sempat bikin ngeri itu diserahkan secara sukarela kepada Aipda Wadilhot. Tak ada tuntutan hukum, tak ada dendam yang tersisa.
Di hadapan Ketua RT M. Pahala dan deretan tokoh masyarakat—Burhani, Rahmat, hingga Marjito—selembar kertas perjanjian ditandatangani. Namun, simbol perdamaian paling sahih justru terlihat setelah pena diletakkan: kedua tetangga itu saling berpelukan.
Di Batu Besar, Nongsa, polisi membuktikan bahwa sebuah masalah besar bisa mengecil, dan masalah kecil bisa hilang, asalkan parang tak lagi bicara dan nurani kembali menyapa. Kini, suasana di Citra Mas kembali tenang, setenang jabat tangan dua pria yang kembali menjadi kawan.


