TERASBATAM.ID — Gangguan pasokan pangan dari sejumlah daerah sentra produsen di Sumatra akibat bencana alam berpotensi memengaruhi harga di Kepulauan Riau (Kepri). Meski demikian, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri memastikan dampak inflasinya masih dalam batas terkendali berkat langkah antisipasi mencari sumber pasokan alternatif.
Kepala Kantor Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro, menyatakan bahwa daerah terdampak bencana seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merupakan pemasok utama berbagai komoditas pangan strategis ke Kepri, terutama cabai dan telur.
“Daerah-daerah yang terkena bencana itu memang sentra produsen dan pemasok pangan, bukan hanya untuk Kepri, tapi juga secara nasional. Jadi tentu dampaknya akan dirasakan oleh semua daerah,” ujar Rony dalam bincang-bincang dengan media di Batam, Selasa (30/12/2025).
Menurutnya, gangguan pasokan berpotensi menekan ketersediaan dan mendorong kenaikan harga. Namun, otoritas monitar dan pihak terkait telah melakukan antisipasi dengan mencari sumber pasokan alternatif dari daerah lain.

Untuk komoditas cabai misalnya, pasokan yang sebelumnya mengandalkan Aceh Tengah kini dialihkan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Langkah serupa diambil untuk komoditas pangan lainnya guna menjaga stabilitas pasokan di Kepri.
“Upaya mencari alternatif pengganti dari daerah lain sudah dilakukan. Ini penting agar pasokan tetap terjaga dan tekanan harga bisa diredam,” tegas Rony.
Dengan adanya substitusi pasokan tersebut, inflasi di Batam maupun Kepri secara keseluruhan diperkirakan tidak akan melonjak signifikan. BI memperkirakan inflasi daerah masih akan berada dalam kisaran sasaran, yakni sekitar 2,5 persen plus minus 1 persen.
“Artinya masih relatif aman dan terkendali,” kata Rony.
Ia berharap, seiring membaiknya kondisi produksi di daerah terdampak bencana serta optimalisasi distribusi dari wilayah alternatif, pasokan pangan dapat kembali normal dan tekanan inflasi semakin mereda dalam beberapa waktu ke depan.
[kang ajank nurdin]


