TERASBATAM.ID — Ratusan taksi di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, mulai menghentikan operasionalnya. Penyebabnya bukan aksi mogok, melainkan kelangkaan bahan bakar minyak yang mulai dirasakan para pengemudi, terutama bagi taksi berukuran besar seperti SUV dan minivan.
Ketua Asosiasi Taksi, Pallop Chayinthu, mengatakan para pengemudi kesulitan mendapatkan BBM. Kekhawatiran akan kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan membuat mereka memilih berhenti beroperasi sementara waktu.
“Dari 5.000 hingga 6.000 taksi yang tergabung dalam asosiasi di bandara, hanya sekitar 2.500 yang masih beroperasi,” ujar Pallop dikutip dari The Nation.
Sejumlah pengemudi mencoba bertahan dengan strategi tertentu. Mereka hanya beroperasi pada pagi hari karena ketersediaan BBM disebut lebih mudah didapat dibandingkan sore hingga malam. Sebagian lainnya memilih hanya menerima penumpang dengan tujuan jarak pendek.
Kelangkaan ini terjadi di tengah krisis energi yang melanda kawasan Timur Tengah pasca eskalasi konflik Iran-Israel. Thailand, meski tidak terlibat langsung, merasakan dampak dari terganggunya rantai pasok minyak global.
Bandara Suvarnabhumi adalah pintu masuk utama wisatawan mancanegara ke Thailand. Gangguan operasional taksi berpotensi memengaruhi layanan transportasi bagi wisatawan, terutama di saat jumlah kunjungan mulai pulih pasca pandemi.
Belum ada pernyataan resmi dari otoritas bandara maupun pemerintah Thailand mengenai langkah antisipasi terhadap kelangkaan ini. Namun, para pengemudi berharap ada intervensi untuk menjamin ketersediaan BBM, setidaknya bagi kendaraan yang beroperasi di bandara internasional.
Kelangkaan BBM di Bangkok menjadi bukti bahwa konflik geopolitik di satu kawasan dapat merembet hingga ke sektor transportasi publik di negara lain. Ribuan taksi yang berhenti beroperasi bukan sekadar angka, melainkan gambaran nyata bagaimana krisis energi mengganggu denyut nadi kota.


