BerandaBatam RayaSatu Sanggar Tersisa, Mak Yong Batam Bertahan di Pulau Panjang

Satu Sanggar Tersisa, Mak Yong Batam Bertahan di Pulau Panjang

Diterbitkan pada

spot_img

TERASBATAM.ID – Di tengah proses pengusulan Teater Mak Yong sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO oleh Kementerian Kebudayaan RI, kondisi kesenian tradisional Melayu ini di Kota Batam justru menyisakan satu sanggar aktif. Sanggar Pantai Basri di Pulau Panjang menjadi satu-satunya benteng pelestarian Mak Yong di daerah yang dikenal sebagai pintu gerbang pariwisata Kepulauan Riau.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengakui bahwa Mak Yong di Batam saat ini hanya dihidupi oleh satu kelompok keluarga yang telah mengalami regenerasi hingga tiga generasi.

“Kita ada satu, Pantai Basri namanya di Pulau Panjang. Cuma satu itu aja kita punya. Tapi dia udah ada generasi, udah bisa dimainkan oleh anaknya bahkan cucunya,” ujar Ardiwinata dalam satu wawancara, Selasa (24/3/2026).

Ardiwinata menjelaskan bahwa Mak Yong bukanlah kesenian yang berasal dari Batam secara khusus, melainkan tersebar di sejumlah wilayah Melayu seperti Riau, Sumatera Utara, bahkan Malaysia. Namun, dalam proses pengusulan ke UNESCO, Dinas Pariwisata Batam diminta berkontribusi melengkapi data melalui mekanisme berjenjang ke Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV yang berpusat di Tanjung Pinang.

BACA JUGA:  PLN Batam Sukses Jaga Pasokan Listrik di Pilkada Serentak 2024

“Mak Yong itu secara umum. Karena Mak Yong itu kan juga ada di Sumatera Utara, juga ada di Riau, kita di Kepulauan Riau. Jadi dia tersebar. Kita diminta ngelengkapi lah, berjenjang gitu,” jelasnya.

Proses pengumpulan data, kata Ardiwinata, telah berlangsung sejak setahun terakhir dan mencakup pengumpulan video, foto, serta dokumentasi lainnya yang diserahkan pada 2025.

Menyoal perhatian pemerintah daerah, Ardiwinata menyebut sejumlah langkah telah dilakukan. Dua orang seniman dari sanggar Mak Yong Pulau Panjang telah direkrut sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) untuk melestarikan musik Melayu. Rencananya, tiga orang lagi dari keluarga yang sama akan direkrut, termasuk anak dan cucu dari maestro Mak Nurma.

“Kita butuh pemusik Melayu, jadi saya ambil salah satunya mereka untuk pelestarian kebudayaan. Itu bentuk perhatian, meskipun awalnya cuma honorer,” ujarnya.

Selain itu, Ardiwinata mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Batam tengah membangun Pusat Seni dan Budaya dengan anggaran sekitar Rp 50 miliar yang ditargetkan rampung pada 2027. Proyek ini merupakan salah satu dari 15 program prioritas Wali Kota Batam Hamzah Karamat.

BACA JUGA:  Ketika Walikota Batam Tantang Warga Rapid Test Antigen

“Ini panggung permanen yang nanti bisa kita tampilkan Mak Yong. Kita sudah lakukan studi kelayakan dengan Taman Ismail Marzuki. Nanti Mak Yong bisa tampil secara regular, bahkan menjadi destinasi wisata budaya,” kata Ardiwinata.

Ditanya mengapa Mak Yong tidak berkembang dan hanya dikuasai satu keluarga, Ardiwinata mengakui bahwa pelestarian memang menjadi fokus utama, bukan pemaksaan perluasan.

“Kita kan sifatnya pelestarian. Keluarga itu sendiri sudah meregenerasi. Ada cucu yang bisa mainkan peran. Untuk berkembang, kita nggak bisa paksakan. Kalau orang lain tergugah untuk membuat, itu bagus,” ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa ketiadaan panggung permanen selama ini menjadi kendala utama. Pertunjukan Mak Yong selama ini hanya bersifat sporadis, mengikuti event-event tertentu.

“Batam belum punya panggung permanen, lebih sporadis, by event. Nanti setelah taman budaya jadi, itu akan jadi solusi,” tambahnya.

Harapan dari Pengakuan UNESCO

Ardiwinata berharap pengusulan Mak Yong ke UNESCO (dalam kategori Memory of the World bersama Malaysia) dapat membawa dampak signifikan bagi pelestarian dan pengembangan kesenian ini di Batam.

BACA JUGA:  PLN Batam Respons Cepat Laporan Gangguan Listrik di Baloi

“Kita harapkan Mak Yong bisa menjadi destinasi wisata budaya. Nanti bisa secara regular kita tampilkan di taman budaya, dengan sound system dan lighting yang baik, kostum yang layak. Wisatawan bisa melihat ini sebagai paket wisata wajib,” pungkasnya.

Ia juga menyebut rencana pengaktifan kembali Dewan Kesenian Batam untuk memperkuat ekosistem seni budaya daerah.

Latest articles

Libur Lebaran, Pantai Trikora Bintan Dibanjiri Wisatawan

TERASBATAM.ID – Kawasan wisata Pantai Trikora di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, menjadi salah satu...

Mak Yong Indonesia vs Malaysia: Satu Rumpun, Dua Wajah

TERASBATAM.ID – Teater Mak Yong, seni pertunjukan tradisional Melayu yang kini tengah diusulkan Kementerian...

Pungli Parkir di Barelang Kembali Marak Saat Lebaran

  TERASBATAM.ID – Momen libur Idul Fitri 2026 di kawasan wisata Jembatan Barelang, Batam, kembali...

Lebaran di Gedung Daerah, Warga Kepri Padati “Gelar Griya” Ansar Ahmad

TERASBATAM.ID — Ribuan warga dari berbagai penjuru Kepulauan Riau memadati kawasan Gedung Daerah, Tanjungpinang,...

More like this

Libur Lebaran, Pantai Trikora Bintan Dibanjiri Wisatawan

TERASBATAM.ID – Kawasan wisata Pantai Trikora di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, menjadi salah satu...

Mak Yong Indonesia vs Malaysia: Satu Rumpun, Dua Wajah

TERASBATAM.ID – Teater Mak Yong, seni pertunjukan tradisional Melayu yang kini tengah diusulkan Kementerian...

Pungli Parkir di Barelang Kembali Marak Saat Lebaran

  TERASBATAM.ID – Momen libur Idul Fitri 2026 di kawasan wisata Jembatan Barelang, Batam, kembali...