TERASBATAM.ID – Kebijakan Pemerintah Singapura yang akan melarang penggunaan vape dan menyamakannya dengan narkoba dinilai berpotensi menguntungkan Batam. Sebagai wilayah perbatasan, Batam dapat menjadi alternatif bagi warga Singapura yang ingin membeli dan mengonsumsi produk tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, Senin (25/8/2025), mengatakan bahwa setiap kebijakan ketat yang diterapkan Singapura akan selalu mendorong masyarakatnya mencari tempat lain yang memiliki regulasi lebih longgar.
“Kalau ada kebijakan-kebijakan dari pemerintah Singapura, bagi masyarakat mereka ada alternatif untuk menikmatinya, salah satunya adalah Batam. Selagi tidak bertentangan dengan regulasi kita, mereka akan memilih Batam,” ujar Ardiwinata.
Ia membandingkan potensi ini dengan kebijakan lain yang telah terbukti menguntungkan Batam. Misalnya, penutupan beberapa lapangan golf publik di Singapura telah menjadikan Batam sebagai destinasi favorit bagi para pegolf. Hal serupa juga terjadi pada olahraga lain, seperti bulu tangkis, pickleball, dan basket, yang kini sering mendatangkan komunitas dari Singapura.
“Batam memiliki daya tarik yang bertambah, tidak hanya golf. Banyak destinasi baru, kuliner, dan wisata religi Islam yang berkembang. Ini membuat mereka datang tidak hanya untuk golf, tetapi juga membawa keluarga,” jelasnya.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan, hingga Juni 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Batam telah mencapai 738.186 orang. Singapura masih menjadi penyumbang wisman terbesar dengan 433.564 kunjungan, diikuti Malaysia dengan 220.533 kunjungan.
Harga dan Jenis Produk Berbeda
Secara terpisah, Kepala Bidang Humas Asosiasi Vaper Indonesia (AVI) Batam, Arief Kurniawan, mengatakan bahwa larangan vape di Singapura sebenarnya sudah ada sejak 2014. Namun, ia tidak menampik adanya potensi peningkatan kunjungan wisatawan dari negara tersebut.
“Orang Singapura yang melancong ke Batam memang ada sebagian yang tujuannya ingin beli vape di Batam. Tapi, itu pun hanya 5 persen dan di daerah tertentu, seperti Nagoya dan Jodoh,” ujar Arief.
Ia menambahkan, harga produk vape di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan di Singapura. Hal ini karena e-liquid produksi lokal sudah banyak dan terjamin. “Di Indonesia kan semua sudah uji lab dan berpita cukai,” katanya.
Arief juga menyoroti perbedaan jenis produk yang dominan di kedua negara. Menurutnya, pengguna vape di Singapura lebih banyak menggunakan produk sekali pakai (disposable), sementara di Indonesia, e-liquid dan perangkatnya dijual terpisah.
“Istilahnya, oknum yang berbuat salah, tapi kenapa barangnya yang disalahkan. Itu yang kita sesalkan,” pungkas Arief, berharap kebijakan yang diambil pemerintah Singapura tidak akan merugikan industri vape di Batam.


