TERASBATAM.ID — Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau meluncurkan aplikasi Pantunesia sebagai langkah inovatif pelestarian budaya Melayu berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI). Peluncuran yang disejalankan dengan Perayaan Hari Pantun Nasional 2025 ini dilakukan oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Kepri, T.S. Arif Fadillah, di Gedung Dekranasda Kepri, Tanjungpinang, Rabu (17/12/2025) malam.
Pantunesia dirancang sebagai ruang belajar budaya yang memadukan tradisi dengan inovasi digital secara autentik. Berbeda dengan pembuat teks otomatis lainnya, teknologi AI dalam aplikasi ini difungsikan sebagai penilai untuk memastikan pantun yang dibuat tetap sesuai dengan struktur, makna, dan filosofi warisan budaya Melayu.
“AI ini bukan pembuat pantun, melainkan penilai yang memberikan skor, menunjukkan kekurangan, dan menyarankan perbaikan,” ujar penggagas Pantunesia, Dato Yoan S. Nugraha. Selain itu, tim pengembang tengah merancang Large Language Model (LLM) khusus bertajuk “Pantul” atau Otak Budaya yang bertindak layaknya guru pantun berpengalaman untuk menjaga akurasi pembelajaran.
Hadirnya Pantunesia menjadi bagian dari strategi besar Pemerintah Provinsi Kepri dalam melindungi Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Hingga tahun 2025, tercatat sebanyak 103 OPK Kepri telah disahkan secara nasional, dengan tambahan 14 objek baru pada tahun ini.
T.S. Arif Fadillah menekankan bahwa keberhasilan pelestarian ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang diakui hingga tingkat internasional oleh UNESCO. Aplikasi ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem kebudayaan serta memberikan dampak ekonomi dan sosial yang luas bagi pembangunan daerah.
Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula penyerahan penghargaan Kebaya Labuh sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Acara ditutup dengan penampilan dari Maestro Pantun Kepri, Muhammad Ali atau Tok Alipun, yang mempertegas eksistensi pantun sebagai jati diri masyarakat Kepulauan Riau.


