TERASBATAM.ID – Di bawah langit Timika yang lembap, sebuah fragmen pengabdian mencapai puncaknya. Angin pegunungan Papua menjadi saksi bisu saat barisan prajurit Korps Marinir berdiri mematung dalam formasi sempurna. Di sana, di garis depan kedaulatan, bukan sekadar logam pangkat yang disematkan, melainkan sebuah pengakuan atas pertaruhan nyawa di medan yang paling sunyi.
Negara memberikan penghormatan tertingginya melalui upacara militer yang dipimpin langsung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Syamsudin dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.
Personel Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 10 Marinir/SBY, yang lebih dikenal dengan sandi operasional “Gobang IV”, menerima Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB). Sebuah anugerah langka yang hanya lahir dari situasi-situasi ekstrem di mana nyawa dan tugas berkelindan dalam satu helai napas.
Bagi para petarung “Hantu Laut” ini, penugasan di wilayah perbatasan bukan sekadar urusan garis peta. Ia adalah ujian militansi di atas tanah yang tak jarang menuntut pengorbanan darah. Jejak sepatu lars mereka tertanam di medan operasi yang tidak ramah, menjaga kedaulatan di tengah ketidakpastian rimba Papua.
Komandan Satgas (Dansatgas) Gobang IV, Letkol Marinir Aris Moko, menatap barisannya dengan sorot mata yang sulit menyembunyikan rasa bangga. Menurut dia, kehormatan ini adalah manifestasi nyata dari pengakuan negara atas keberanian dan loyalitas tanpa pamrih.
“Setiap pangkat yang disematkan hari ini adalah sumpah baru. Ini adalah janji untuk semakin disiplin dan semakin siap berdiri di garis paling depan,” ujar Aris Moko di tengah suasana khidmat upacara tersebut, Jumat (02/01/2026).
KPLB yang diterima para prajurit ini melampaui simbol administratif kepangkatan. Di lingkungan militer, ia adalah “prasasti hidup” yang menandakan bahwa pemakainya telah melewati batas rata-rata pengabdian.
Mereka adalah benteng hidup yang memastikan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap tegak, meski harus berdiri di titik-titik paling rawan.
Ketika upacara berakhir, langkah kaki para prajurit Yonif 10 Marinir/SBY kembali mantap menuju pos-pos mereka. Bagi mereka, tugas belum usai. Penghormatan ini bukan untuk dipajang sebagai kenangan di dinding rumah, melainkan menjadi bahan bakar baru untuk terus bermanfaat bagi rakyat dan menjaga stabilitas negeri.
Di ujung timur Nusantara, Satgas Gobang IV telah mengukir catatan baru dalam sejarah panjang Korps Baret Ungu. Mereka tidak meminta untuk dikenang, tetapi mereka memastikan satu hal: Indonesia tetap berdiri tegak dan berdaulat di setiap inci tanahnya.


