TERASBATAM.ID – PT Solder Tim Andalan Indonesia (Stania), anak perusahaan PT Mitra Stania Prima dan PT Arsari Tambang, meresmikan pabrik solder di Batam pada Kamis (10/07/2025). Peresmian ini menandai langkah konkret industri nasional dalam memperkuat hilirisasi timah, sekaligus membantah keraguan terhadap kemampuan Indonesia memproduksi produk turunan timah yang lebih canggih.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu dalam sambutannya menegaskan bahwa peresmian pabrik Stania adalah bukti nyata kebijakan hilirisasi pemerintah mampu direalisasikan. Ia menekankan, hilirisasi timah, meski sering dianggap mustahil, kini terbukti dapat dilakukan.
Todotua menjelaskan, hilirisasi telah menjadi agenda prioritas pemerintah, bahkan tertuang dalam nomenklatur Kementerian Investasi dan Hilirisasi. Ia mengungkapkan, pemerintahan Prabowo-Gibran menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 8 persen pada tahun 2029, dengan investasi sebagai tulang punggungnya. Untuk mencapai target ini, pemerintah membidik realisasi investasi sebesar Rp 13.000 triliun dalam lima tahun ke depan, naik signifikan dari Rp 3.900 triliun dalam dua periode pemerintahan sebelumnya.
“Timah adalah salah satu dari 28 komoditas prioritas yang serius kita dorong untuk hilirisasi,” tegas Todotua. Ia menyebut, pabrik solder Stania ini adalah pabrik solder timah ketiga di Indonesia, menambah deretan fasilitas yang sudah ada, termasuk pabrik tin chemical.
Meski demikian, Todotua mengakui ada tantangan dalam pengembangan industri hilir timah, khususnya terkait daya saing kompetitif. Ia menyoroti persoalan di mana produk timah dari smelter harus melalui bursa sebelum dibeli oleh pabrik hilir, yang dapat mengurangi efisiensi dan daya saing.
“Pabrik soldernya punya Mas Aryo (Aryo Joyohadikusumo, Direktur Utama Arsari Tambang) ini nanti beli timah ini dari bursa. Kalau saya kemarin groundbreaking satu pabrik yang di Batam juga begitu, smelter timahnya di situ, pabrik soldernya di situ, dia sebelah-sebelahan. Barangnya dari smelter ini naik dulu ke bursa, kemudian pabrik soldernya di sebelah beli dari bursa,” jelas Todotua.
Untuk mengatasi hal ini, Kementerian Investasi akan mendorong agar pabrik hilirisasi dapat membeli langsung bahan baku dari smelter. Selain itu, ia juga menyoroti perlunya terobosan dalam persoalan fiskal dan non-fiskal agar investasi di sektor hilir timah dapat berkelanjutan.
Batam sebagai Pusat Investasi Strategis
Dalam konteks percepatan investasi, Todotua menekankan peran strategi kawasan. Batam, sebagai salah satu kawasan strategis, mendapat perhatian khusus. Ia menyebut, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 25 dan 28 telah dikeluarkan untuk memberikan kewenangan penuh kepada Batam dalam hal perizinan serta tata kelola yang lebih cepat dan efisien.
“Kita mau semua proses cepat. Bapak Presiden itu ada catatan unrealisasi investasi sekitar kurang lebih sekitar Rp 1.500 triliun karena persoalan-persoalan seperti itu,” ungkap Todotua. “Maka sudah tidak ada waktunya lagi. Sebagai pemerintah, ya kita harus bisa berani untuk dikoreksi.”
Todotua berharap, konsolidasi yang baik antara pemerintah pusat, daerah (provinsi dan kota), dan Badan Pengelola Batam akan mempercepat realisasi investasi. Ia mengapresiasi keberanian PT Stania yang berinvestasi di sektor hilirisasi timah, yang menurutnya membutuhkan unsur “nekat” karena persaingan yang ketat.
“Semoga pabrik ini dapat menjadi tonggak penting yang menginspirasi dalam pembangunan industri berbasis timah di Indonesia, serta memberikan manfaat besar bagi bangsa dan negara,” pungkas Todotua.
Proyeksi Pasar Global dan Potensi Ekspor
Direktur Utama PT Arsari Tambang, Aryo Joyohadikusumo, sebelumnya menyatakan optimismenya terhadap pabrik Stania. Meskipun bukan pabrik terbesar atau dengan nilai investasi terbesar, ia menegaskan pentingnya pabrik ini sebagai wujud hilirisasi timah yang sudah diekspor dalam bentuk ingot.
Aryo juga mengungkapkan bahwa PT Stania telah menjalin kerja sama strategis dengan PT Freeport Indonesia sebagai pemasok bahan baku dan PT Volex Indonesia sebagai salah satu calon pelanggan. Bahkan, sebelum diresmikan, produk solder Stania sudah terjual di pasar domestik, dan siap untuk ekspor setelah mendapatkan nomor dari Kementerian Perdagangan.
“Stania mulai hari ini akan ekspor solder dan akan memenuhi semua kebutuhan solder di Batam, Bintan, dan sekitarnya,” kata Aryo. Ia menambahkan, Stania tidak hanya akan memproduksi solder bar, tetapi juga berencana memproduksi solder paste yang lebih canggih, seperti yang digunakan untuk microchip semiconductor pada produk-produk Nvidia.
“Suatu saat kita akan kembangkan produk itu dan kita bisa produksi di Kota Batam, di Provinsi Kepulauan Riau, di Republik Indonesia,” pungkasnya.


