TERASBATAM.ID – Di tengah negosiasi nuklir yang tegang antara Amerika Serikat dan Korea Utara pada tahun 2019, sebuah operasi rahasia yang disetujui langsung oleh Presiden Donald Trump berakhir dengan kegagalan tragis. Tim elite Navy SEAL Team 6, yang terkenal dengan misi-misi berani, ditugaskan untuk menyusup ke wilayah Korea Utara. Misi mereka adalah menanam perangkat pengawasan canggih di lingkaran dalam Kim Jong Un, dengan harapan bisa memantau pergerakan dan rencana nuklir rezim tersebut. Namun, apa yang seharusnya menjadi langkah strategis berubah menjadi bencana yang merenggut nyawa warga sipil tak bersenjata.
Menurut laporan yang diungkap oleh New York Times, operasi ini menjadi salah satu episode paling gelap dalam sejarah operasi khusus AS. Meskipun misi ini dilindungi kerahasiaan selama bertahun-tahun, kegagalan ini menunjukkan ambisi taktis yang melampaui batas kewajaran. Misi ini diyakini bertujuan memberikan Washington keuntungan besar dalam negosiasi nuklir dengan menyusup ke dalam komunikasi pribadi Kim Jong Un. Namun, kenyataan di lapangan jauh berbeda. Insiden ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai legalitas dan pengawasan operasi, sekaligus menyoroti risiko eskalasi yang sangat tinggi di Semenanjung Korea.
Kegagalan ini juga membuka mata tentang betapa rentannya operasi militer rahasia di negara dengan sistem pertahanan yang sangat ketat. Berbeda dengan medan pertempuran di Irak atau Afghanistan, tim SEAL menghadapi tantangan luar biasa di Korea Utara, di mana tidak ada aset lokal yang mendukung, tidak ada pangkalan aman untuk mundur, dan pengawasan musuh sangat ketat. Insiden ini, yang tersembunyi dari mata publik dan bahkan dari komite intelijen Kongres selama dua tahun, menunjukkan bahwa dalam dunia operasi rahasia, kegagalan sering kali disembunyikan untuk menghindari konsekuensi politik.
Para pengamat militer menyebut misi ini sebagai peringatan serius. Ini menunjukkan bahwa bahkan pasukan elit terbaik di dunia pun bisa gagal jika ditugaskan dalam misi yang didorong oleh motif politik, tanpa pengawasan yang memadai, dan tanpa mempertimbangkan risiko strategis yang jauh lebih besar. Kematian warga sipil tak bersenjata dan kurangnya akuntabilitas pasca-operasi menjadi bukti bahwa dalam kompetisi kekuatan global, kebijaksanaan strategis sering kali dikalahkan oleh ambisi taktis yang gegabah.
sumber : https://defencesecurityasia.com


