TERASBATAM.ID – Nasib ratusan mantan pekerja PT Indo Tirta Suaka (ITS) atau peternakan babi Pulau Bulan yang di-PHK massal akibat terhentinya ekspor ke Singapura, menemui akhir yang pahit. Setelah berjuang lewat jalur hukum hingga Mahkamah Agung (MA), sekitar 350 pekerja pada gelombang pertama hanya menerima kompensasi pesangon sebesar 0,5 kali dari ketentuan yang berlaku, jauh di bawah anjuran awal Dinas Tenaga Kerja (Disnaker).
Virgil Rutu (33), yang sebelumnya dipercaya menjadi Ketua Koordinator Perwakilan Pekerja PT ITS gelombang pertama, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut Disnaker sempat menganjurkan pembayaran 1 kali ketentuan pesangon karena perusahaan dinilai masih menuju kerugian, bukan rugi total.
“Tapi itu lanjut ke PHI (Pengadilan Hubungan Industrial), Pak. Keputusan di PHI-nya 0,5 [kali ketentuan pesangon],” jelas Virgil, yang kini beralih profesi menjadi pekerja galangan kapal, Kamis (9/10/2025).
Putusan PHI tersebut kemudian dikuatkan oleh Mahkamah Agung pada Agustus 2025, mengakhiri perjuangan hukum yang memakan waktu lebih dari setahun. Virgil, yang telah mengabdi 12 tahun di bagian produksi, mengaku hanya menerima pesangon sekitar Rp 60 juta lebih.
“saya menerima kesepakatan sampai di tingkat PHI, tetapi banyak juga yang menunggu sampai MA. Karena saya juga butuh pekerjaan, tidak bisa terus fokus untuk memperjuangkan sampai ke level MA,” kata Virgil soal keputusannya untuk menerima kompensasi dari pihak perusahaan.
Depopulasi Total dan Pekerja Non-Skill
Di sisi operasional, kelangsungan PT ITS masih menggantung menyusul temuan African Swine Fever (ASF) oleh Otoritas Pangan Singapura (SFA) pada April 2023. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepri, Rika Azmi, mengonfirmasi bahwa perusahaan diwajibkan melakukan depopulasi total ternak.
“Untuk pemulihan secara total harus depopulasi sampai nol,” tegas Rika, seraya menambahkan bahwa pihaknya belum menerima laporan resmi penutupan permanen.
Virgil membenarkan bahwa PHK masih terus berlanjut dengan pembayaran 0,5 kali pesangon. Ia menyoroti kesulitan mayoritas mantan rekannya yang tergolong pekerja non-skill dan harus “mulai dari nol” tanpa bekal pelatihan, sehingga terpaksa beralih menjadi ojek online atau security.
“Masalahnya, prosesnya itu, cara-cara penyelesaiannya… itu yang kita kecewa,” pungkas Virgil.
Sementara itu belum ada komentar dari pihak management terkait dengan situasi terkini soal peternakan babi di pulau yang dibuka pertama kali di era Presiden Soeharto itu.
Data Penting Pulau Bulan
- Penyebab Krisis: Penghentian impor babi oleh SFA sejak 23 April 2023 karena temuan ASF.
- Luas Lahan: 1.500 hektare.
- Populasi Normal: 240.000 ekor babi ternak.
- Kontribusi Singapura: PT ITS menyuplai 15 persen dari total 5.000 ekor kebutuhan babi harian Singapura.
- Pasokan Terkini: Ekspor ke Singapura terhenti total, pasokan kini dikabarkan beralih ke Malaysia.
- Kondisi Pasca-ASF: Babi dari Pulau Bulan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lokal dan regional dalam negeri.


