TERASBATAM.ID — Di tengah gegap gempita takbir yang menggema di malam Idulfitri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih cara berbeda untuk menyapa publik. Bukan di mimbar atau konferensi pers formal, melainkan melalui siaran langsung di akun TikTok pribadinya. Dalam waktu 30 menit, Jumat (20/3/2026) malam, ia berbicara di hadapan 16.300 penonton yang memadati kolom komentar.
Yang dibawakan bukan sekadar ucapan selamat hari raya. Di tengah euforia Lebaran, Purbaya meluruskan spekulasi yang belakangan menghangat di ruang publik: isu bahwa ekonomi nasional sedang menuju jurang krisis seperti 1997-1998.
“Saya agak bingung mengapa isu krisis 97-98 diembuskan kembali. Padahal, kita sudah jauh dari sana dan telah menguasai ilmunya. Data menunjukkan indikator ekonomi kita justru bergerak ke atas,” ujar Purbaya dalam siaran yang diselingi sapaan ramah kepada warganet itu.
Purbaya tidak sekadar menepis. Ia menyertai penolakannya dengan data. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) disebutnya terus menguat. Penjualan mobil dan sepeda motor naik. Economic Index bergerak positif. Bahkan di pasar modal, arus modal asing (capital inflow) masih mencatatkan tren positif hingga Maret ini.
Yang lebih penting, menurutnya, adalah ketangguhan APBN dalam menyerap berbagai guncangan eksternal, termasuk lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan di Selat Hormuz. Defisit anggaran, katanya, tetap dijaga dalam level aman.
“Selama fondasinya bagus, kita akan tetap bagus. APBN bertindak sebagai penyerap benturan (absorber). Kami telah mengatur sedemikian rupa agar defisit tidak menembus level yang mengkhawatirkan,” tegasnya.
Dalam sesi tanya jawab dengan pengikutnya, muncul pertanyaan soal wacana redenominasi rupiah. Purbaya menjawab dengan tegas namun diplomatis: ada prioritas yang jauh lebih penting saat ini ketimbang pemotongan angka nol pada mata uang. Fokus kementerian, ujarnya, adalah merapikan seluruh fondasi ekonomi nasional terlebih dahulu.
Ia juga menyebut stabilitas nasional yang terjaga—termasuk berkurangnya aksi massa di jalanan—sebagai salah satu indikator bahwa kondisi ekonomi secara umum telah membaik. “Indonesia berada di posisi tertinggi di antara negara-negara G20 dengan defisit terkecil,” klaimnya.
Penampilan Purbaya di TikTok malam takbiran itu mungkin bukan sekadar strategi komunikasi publik. Di tengah banjir informasi yang tak selalu akurat, ia memilih masuk ke ruang di mana masyarakat paling mudah terpapar hoaks—dan berbicara dengan bahasa yang mereka pahami.
Enam belas ribu tiga ratus penonton bukan angka kecil. Di kolom komentar, beragam reaksi muncul: ada yang lega, ada yang tetap skeptis, tak sedikit yang justru kaget melihat menteri keuangan negeri ini bersilaturahmi virtual dengan nada santai di malam Lebaran.
Tapi pesan yang disampaikan tetap formal: ekonomi aman, jangan gampang percaya isu, dan pemerintah bekerja.
Di tengah malam yang penuh takbir, itu mungkin cukup menjadi penenang bagi mereka yang khawatir.


