TERASBATAM.ID Ramadan selalu datang dengan janji keberkahan, namun sejarah menyimpan ingatan pedih tentang bagaimana harapan bisa berubah menjadi tragedi. Tiga tahun lalu di Karachi, Pakistan, jejak-jejak alas kaki yang berserakan menjadi saksi bisu tewasnya 16 warga—mayoritas perempuan dan anak-anak—yang meregang nyawa demi sebungkus bantuan makanan. Mereka tidak sedang berperang, mereka hanya sedang lapar dan berjuang menjemput sedekah di sebuah pabrik.
Tragedi itu adalah pengingat keras bagi kita di Indonesia saat ini. Di tengah keriuhan pasar murah dan pembagian zakat yang kerap kita jumpai, ada garis tipis antara niat berbagi dan hilangnya martabat penerima bantuan. Sering kali, antrean panjang di bawah terik matahari dianggap sebagai pemandangan biasa, padahal di baliknya ada risiko keselamatan yang nyata sebagaimana yang pernah dialami para ibu di Karachi.
Refleksi ini menjadi sangat relevan dengan situasi kekinian kita, di mana fluktuasi harga pangan sering kali memicu kerumunan massa pada setiap program bantuan sosial. Kita harus belajar bahwa kemuliaan memberi tidak boleh dibayar dengan keselamatan nyawa. Jangan sampai niat mengejar pahala justru menyisakan tangis kerabat, seperti potret pilu warga Pakistan yang meratapi anggota keluarganya yang tak pernah kembali ke rumah hanya karena sepotong bantuan.
Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memanusiakan manusia. Memberi dengan cara yang bermartabat, teratur, dan aman adalah wujud tertinggi dari rasa empati. Mari kita pastikan, di setiap butir nasi yang kita bagikan, tidak ada keselamatan yang dikorbankan, dan tidak ada lagi sepatu yang berserakan tanpa pemiliknya hanya demi menyambung hidup.


