TERASBATAM.ID — Tentara Darat Malaysia bersiap merevolusi postur artilerinya. Tender pengadaan 36 unit howitzer ringan 105mm senilai USD 166 juta (sekitar Rp 2,7 triliun) telah meluncur Oktober tahun lalu. Bukan sekadar ganti yang tua, ini ihwal mobilitas di hutan dan rawa, kecepatan tarik di jalan rusak, serta siapa yang mampu meletuskan peluru terbanyak sebelum musuh berlindung.
Empat kandidat kini bersaing: LG1 Mk III buatan KNDS Perancis, Boran dari MKE Turki, KH-178 gacoan Hyundai WIA Korea Selatan, serta CS/AH2 yang ditawarkan Poly Technologies China. Masing-masing membawa cerita, juga kelemahan.
Panglima Tentera Darat Jen Datuk Azhan Othman (memakai beret) menguji meriam 105mm LG1 MkIII yang dioperasikan oleh Rejimen Pertama Artileri Diraja (Para). (kredit Tentera Darat Malaysia)
Di atas kertas, LG1 Mk III seperti jawaban atas doa para artileris. Bobotnya ringan, bisa diangkat helikopter, dan melesat ditarik hingga 100 km/jam—penting ketika kontak tembak terjadi di perbatasan Kalimantan yang berpindah-pindah. “Sistem breknya canggih, mampu henti darurat di kecepatan tinggi,” tulis laporan teknis yang beredar.
Boran lebih berat sedikit, tapi tangguh. Masalahnya, ia hanya mampu enam tembakan per menit. Sementara LG1 Mk III—seperti diperagakan tentara Belgia—bisa meletus 16 kali dalam 60 detik. Di hutan belantara, selisih sepuluh das bisa berarti hidup atau mati.
KH-178 unggul jarak: 18 km dengan amunisi roket. Tapi ia butuh delapan orang kru, terlampau banyak untuk operasi cepat. Lagi pula, belum jelas apakah bisa diangkut helikopter ringan. Sementara CS/AH2 China diselimuti misteri: tak ada data laju tembak, tak jelas sistem breknya.
Yang menarik, LG1 Mk III sebenarnya bukan barang baru di Malaysia. Rejimen Pertama Artileri Diraja (Para) telah mengoperasikannya. Bahkan sistem kendali tembakannya sudah terintegrasi dengan radio taktis dan jaringan komando yang sama dengan howitzer 155mm G5 serta mortar 120mm 2R2M.
Artinya, jika kembali memilih LG1, Malaysia tak perlu membangun ekosistem baru. Cukup tambah jumlah dan sebar ke medan.
Namun, di tenghir naluri pragmatisme, selalu ada godaan untuk membanding. Apakah enam das sudah cukup jika musuh tak pernah berhenti bergerak? Apakah jarak 18 km lebih penting daripada kecepatan meninggalkan posisi sebelum granat balasan jatuh?
Tender ini, bagi pengamat militer di Kuala Lumpur, bukan sekadar soal angka. Ia tentang bagaimana Tentara Darat Malaysia membaca peta ancaman di masa depan: apakah masih perang gerilya di hutan, atau sudah harus siap dengan kontak tembak bergerak di rawa dan perbatasan yang tak pernah tidur.
Empat kandidat. Satu pemenang. Tapi yang paling menentukan bukan kaliber, melainkan doktrin: secepat apa Malaysia ingin menarik pelatuk—dan secepat apa ia lari sebelum musuh membalas.
[sumber: www.defencesecurityasia.com]


