TERASBATAM.ID – Teater Mak Yong, seni pertunjukan tradisional Melayu yang kini tengah diusulkan Kementerian Kebudayaan RI sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO, memiliki perbedaan mendasar dengan versi Malaysia yang telah lebih dulu masuk daftar warisan dunia pada 2008. Perbedaan tersebut tidak terletak pada bentuk dasarnya, melainkan pada pusat tradisi, fungsi sosial, dan cara pewarisan.
Pamong Budaya sekaligus Koordinator Warisan Budaya Takbenda Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV, Hendri Purnomo, menjelaskan bahwa Mak Yong di Indonesia dan Malaysia berada dalam satu rumpun teater tari Melayu yang sama. Namun, keduanya menempati posisi berbeda dalam lintasan sejarah dan perkembangan budaya masing-masing.
“Perbedaan yang paling mendasar adalah: di Malaysia Mak Yong tampak sebagai tradisi inti yang diwariskan terus dari pusat historisnya, terutama Kelantan. Sedangkan di Indonesia, Mak Yong tampil sebagai cabang regional yang dihidupkan kembali dan dinegosiasikan ulang sesuai kebutuhan budaya lokal masa kini, khususnya di Kepulauan Riau,” ujar Hendri, Selasa (24/3/2026).
Pengusulan Mak Yong ke UNESCO
Hendri mengungkapkan bahwa pengusulan Mak Yong sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan RI di bawah arahan Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada awal 2025. Pengusulan ini dilakukan bersama dengan tempe dan jaranan sebagai bagian dari upaya memperkuat pengakuan budaya Indonesia di kancah internasional.
“Tujuannya mendaftarkan Teater Mak Yong ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan dunia. Pengusulan ini menekankan pada kekhasan Mak Yong yang berkembang di wilayah Indonesia,” jelasnya.
Perbedaan Mak Yong Indonesia dan Malaysia
Hendri memaparkan sejumlah perbedaan kunci antara Mak Yong Indonesia dan Malaysia. Dari segi pusat tradisi, Mak Yong Malaysia sangat diasosiasikan dengan Kelantan dan kerap dijadikan rujukan bentuk klasik, sementara Mak Yong Indonesia paling menonjol di Kepulauan Riau sebagai varian regional dalam jaringan budaya Melayu.
Dari sisi fungsi budaya, Mak Yong Malaysia memiliki hubungan historis yang kuat dengan ritual dan penyembuhan, serta pernah mendapat patronase istana. Sebaliknya, Mak Yong Indonesia saat ini lebih menonjol sebagai upaya pelestarian warisan, penegasan identitas budaya Melayu daerah, dan pertunjukan seni.
“Di Malaysia, unsur ritual lebih menonjol dalam narasi dan dokumentasi internasional, termasuk ritual buka panggung. Di Indonesia, unsur ritual bisa tetap hadir, tetapi sering disederhanakan atau disesuaikan dengan konteks panggung sekarang,” papar Hendri.
Perbedaan yang paling mudah dikenali, menurut Hendri, terletak pada bahasa dan logat. Mak Yong Malaysia menggunakan dialek Melayu Kelantan yang menjadi penanda kuat lokalitasnya, sementara Mak Yong Indonesia berbasis ragam Melayu Kepulauan Riau.
“Bagi penonton umum, inilah pembeda yang paling cepat terasa. Bahkan ketika alur dan jenis tokohnya serupa, bunyi dialog, intonasi, humor, dan pilihan diksi membangun identitas panggung yang berbeda,” katanya.
Dari sisi repertoar dan transmisi, Mak Yong Malaysia memiliki repertori yang relatif mapan dalam literatur tentang Kelantan. Sementara di Indonesia, sebagian repertoar harus direkonstruksi dari ingatan, catatan, dan proses pembelajaran ulang karena kesinambungan tradisi pernah melemah.
“Mak Yong Indonesia sering memuat unsur rekonstruksi yang lebih nyata daripada versi yang dijadikan acuan di Malaysia,” ujar Hendri.
Pada tingkat dasar, perangkat musikal dan struktur pementasan Mak Yong di kedua negara masih menunjukkan kekerabatan. Namun, warna pertunjukan Mak Yong Indonesia lebih dipengaruhi ekologi budaya Kepulauan Riau, sehingga kesan musikal dan suasana panggung terasa lebih dekat dengan lingkungan budaya Melayu pesisir Indonesia.
Sementara itu, dalam rujukan internasional, Mak Yong Malaysia sangat sering dibahas bersama fungsi ritual dan penyembuhan. UNESCO menekankan bahwa Mak Yong di Kelantan dipentaskan bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga untuk kepentingan ritual yang berkaitan dengan praktik penyembuhan.
“Di Indonesia, unsur ritual tidak harus hilang, tetapi dalam praktik masa kini penekanan umumnya bergeser ke pelestarian budaya, pertunjukan festival, pendidikan seni, dan representasi identitas Melayu daerah,” jelas Hendri.
Hendri mengingatkan bahwa perbandingan Mak Yong Indonesia dan Malaysia tidak boleh terlalu kaku. Mak Yong berkembang di dunia Melayu yang sejak lama melintasi batas negara modern. Tradisi ini juga beredar di Thailand selatan dan dalam jaringan budaya Melayu yang lebih luas.
“Mak Yong bukan warisan yang sejak awal lahir mengikuti garis batas negara sekarang. Perbandingan yang paling adil adalah melihat Malaysia sebagai pusat rujukan historis yang sangat kuat, sementara Indonesia menunjukkan bagaimana tradisi yang sama berakar ulang, berubah, dan bertahan dalam konteks lokal Kepulauan Riau,” pungkasnya.
Dengan pengusulan ini, diharapkan Mak Yong Indonesia mendapatkan pengakuan internasional yang setara dengan versi Malaysia, sekaligus mendorong upaya pelestarian dan revitalisasi yang lebih serius di tingkat daerah. Proses pengusulan sendiri saat ini tengah berlangsung dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk BPK Wilayah IV yang berpusat di Tanjung Pinang.


