Meskipun mahir menggunakan gawai, kemampuan masyarakat Indonesia di bidang etika dan keamanan digital dinilai masih rendah. Pemerintah memperkuat edukasi literasi hingga ke wilayah perbatasan dan 3T.
TERASBATAM.ID — Pemerintah pusat menyoroti rendahnya literasi digital masyarakat Indonesia yang dinilai menjadi tantangan serius secara nasional. Kondisi ini meningkatkan kerentanan terhadap hoaks, disinformasi, serta penyalahgunaan data pribadi.
Direktur Informasi Publik di Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Nursodik Gunarjo, menegaskan bahwa persoalan ini tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan tetapi juga di daerah perbatasan seperti Batam.
“Masyarakat kita sudah sangat mahir memakai gadget, bahkan anak-anak. Tapi kemampuan mereka menjaga keamanan digital dan beretika di ruang digital masih rendah,” ujar Nursodik di Batam, Kamis (27/11/2025).
Nursodik menjelaskan, literasi digital mencakup empat pilar utama: Digital Skills, Digital Security, Digital Ethics, dan Digital Culture. Namun, pemahaman terhadap ketiga pilar terakhir masih menjadi kelemahan terbesar.
“Banyak masyarakat masih mengunggah data pribadi tanpa sadar risikonya, belum paham etika bermedia, dan mudah percaya informasi yang belum tentu benar,” ucapnya.
Sebagai daerah perbatasan, Batam secara spesifik dinilai rentan terhadap arus informasi lintas batas (borderless). Kondisi ini membuat masyarakat Batam memerlukan mekanisme penyaringan informasi yang kuat agar tidak mudah terpengaruh disinformasi.
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah menggelar program edukasi literasi digital bernama Community Action. Program ini melibatkan tiga elemen, yaitu monitoring isu (FOMO), penguatan kanal resmi pemerintah (Indonesia.go.id Menyapa), serta komunitas kreator konten positif (SOHIB).
Nursodik menekankan bahwa peningkatan literasi digital harus dilakukan secara masif, menjangkau tidak hanya Batam, tetapi juga hingga ke wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Pemerintah juga bekerja sama dengan Media Centerdaerah dan komunitas anak muda untuk memproduksi konten positif, termasuk dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).
[kang ajank nurdin]


