TERASBATAM.ID — Sejarah baru tertulis di bumi Riau dan Kepulauan Riau. Di pundak Mayor Jenderal TNI Agus Hadi Waluyo, mandat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XIX/Tuanku Tambusai pertama kali diletakkan. Penunjukan alumni Akademi Militer 1995 ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan langkah awal dari sebuah transformasi pertahanan di wilayah perbatasan laut dan darat yang strategis.
Lahir pada 22 Agustus 1973, Agus Hadi adalah perwira yang tumbuh dan besar dalam dunia “si jago merah”—istilah populer untuk korps Artileri Medan (Armed). Kariernya mencerminkan konsistensi di bidang kesenjataan perang. Sebelum dipercaya memimpin Kodam baru ini, ia menjabat sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Medan (Danpussenarmed). Di sana, ia memegang kendali atas pembinaan kekuatan dan penelitian pengembangan Armed di seluruh Indonesia.
Rekam jejaknya menunjukkan keseimbangan antara kepemimpinan lapangan dan manajerial sumber daya manusia. Jabatan sebagai Asisten Personel (Aspers) Kasdam III/Siliwangi hingga Waaspers Panglima TNI menjadi bekal krusial bagi Agus untuk membangun struktur organisasi Kodam XIX dari titik nol. Kedekatannya dengan pimpinan TNI saat ini juga terlihat saat ia menjadi Aspers di Siliwangi di bawah Jenderal TNI Agus Subiyanto (kini Panglima TNI), menunjukkan kepercayaan besar dari institusi atas kapasitasnya.
Kini, tugas berat menantinya. Kodam XIX/Tuanku Tambusai yang mencakup wilayah Riau dan Kepulauan Riau memiliki dinamika yang sangat kompleks, mulai dari isu keamanan perbatasan, kebakaran hutan, hingga geliat ekonomi di jalur pelayaran internasional.
Sesuai pesan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak saat pelantikannya, Agus diharapkan tidak hanya duduk di belakang meja administratif. Di wilayah yang luas dan terdiri dari ribuan pulau ini, Sang Panglima pertama dituntut untuk terus turun ke lapangan, memahami detail geografi dan kondisi sosial masyarakat di bawah naungannya. Bagi Agus Hadi, Kodam XIX adalah medan “tembak” barunya, di mana ketepatan koordinasi dan strategi sangat menentukan stabilitas di gerbang barat Indonesia.


