TERASBATAM.ID – Penempatan Kwin Fo sebagai Direktur Utama PT PLN Batam menuai sorotan dari berbagai pihak, termasuk pengamat politik dan akademisi. Rahmayandi Mulda, Dosen Ilmu Sosial dan Politik Universitas Kepulauan Riau (Unrika), menilai bahwa idealnya pergantian kepemimpinan dalam organisasi menggunakan sistem merit.
Rahmayandi menyatakan bahwa kondisi saat ini sulit untuk memilih pemimpin yang tepat berdasarkan profesionalisme dan kompetensi. “Kebanyakan, baik di birokrasi pemerintahan maupun di BUMN sampai BUMD sudah terkontaminasi kepentingan politik praktis atau dijadikan alat kekuasaan,” ujarnya kepada www.terasbatam.id, Kamis (22/05/2025).
Ia menambahkan bahwa dampak ke depan sangat bergantung pada afiliasi kepemimpinan politik. Jika pimpinan politiknya bermasalah, maka besar kemungkinan akan merusak struktur di bawahnya.
“Kita berharap pemimpin saat ini memiliki niat baik untuk melakukan perbaikan, bukan hanya menjadikan perusahaan plat merah dijadikan alat sapi perah untuk melanggengkan kekuasaan,” tegas Rahmayandi.
Sistem merit adalah sebuah kebijakan dan manajemen sumber daya manusia yang mendasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja seseorang. Sistem ini diterapkan secara adil dan wajar tanpa diskriminasi, artinya keputusan mengenai rekrutmen, penempatan, promosi, dan pengembangan karyawan atau pejabat didasarkan pada kemampuan dan prestasi, bukan pada faktor-faktor non-merit seperti koneksi politik, ras, gender, atau latar belakang lainnya.
Sebelumnya tokoh masyarakat Batam, Yudi Kurnain, yang telah berpengalaman 20 tahun di kursi legislatif. Yudi menyoroti kredibilitas Kwin Fo yang disebutnya “bukan dari kalangan internal PLN”, dan menilai penunjukan ini telah berdampak pada penurunan kualitas layanan kelistrikan serta menimbulkan keraguan publik.
Yudi mencontohkan, kebun dan tambak ikannya sempat menjadi korban pemadaman listrik tanpa pemberitahuan selama lebih dari lima jam. “Kalau listrik mati di atas lima jam, wah mati, Pak. Bahaya. Tanpa pemberitahuan, tanpa pengabaran. Selama ini kan profesional dikabari listrik ada mati. Sekarang ini hilang profesionalitas itu,” keluhnya.

Menurut Yudi, kondisi ini tak lepas dari latar belakang direktur utama PLN Batam yang baru. “Direktur yang sekarang melaksanakan ini kan orang bukan dari kalangan internal, lewat sesuatu yang tidak dipersiapkan. Ini menjadi pertanyaan publik, sehingga jawabannya kondisi seperti ini,” kata Yudi.
Ia juga menambahkan bahwa rekam jejak Kwin Fo disebut sulit ditemukan, bahkan melalui pencarian di internet, yang semakin memperkuat keraguan masyarakat akan kompetensinya. Meskipun Yudi mendukung upaya pemberantasan korupsi yang digaungkan Kwin Fo, ia menegaskan bahwa hal itu tidak boleh mengganggu tugas pokok PLN Batam dalam memberikan layanan kelistrikan kepada masyarakat. “Masalah statement-nya mau bongkar korupsi, kita dukung. Tapi jangan untuk menutup layanan yang rusak ini, yang turun ini,” tutur mantan anggota DPRD Provinsi Kepri itu.
Yudi mengingatkan bahwa jabatan Direktur Utama PLN Batam adalah jabatan publik karena mengelola uang masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaannya harus transparan dan profesional. Terkait isu bahwa Kwin Fo merupakan adik dari Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, Yudi menyatakan bahwa jika memang benar, ini menjadi kesempatan bagi yang bersangkutan untuk membuktikan kemampuan dalam melayani masyarakat.
Informasi dari internal PLN pusat yang diterima Yudi juga menyebutkan bahwa proses pergantian Direksi PT PLN Batam dari pejabat sebelumnya kepada Kwin Fo dilakukan mendadak, bahkan tanpa diketahui oleh internal PLN Pusat. “Serah terima jabatan dilakukan melalui zoom meeting, mendadak perintah dari BUMN,” kata Yudi.
Manajer Humas PT PLN Batam, Novi Hendra, menolak memberikan komentar terkait pernyataan Dirut PT PLN Batam yang akan melaporkan kasus korupsi di internal, karena pernyataan itu bukan merupakan siaran pers yang diterbitkan oleh pihaknya. Sementara itu, seorang staf Humas PLN Batam membenarkan adanya hubungan kekerabatan antara Dirut baru dengan Wakil Wali Kota Batam. “Kalau latar belakang partai mohon maaf saya kurang tahu Mas. Kalau adiknya Ibu Li (Li Claudia Chandra) saya dengar informasinya iya,” ujarnya.
[kang ajank nurdin]


