BerandaKonsumen Batam Konservatif, Penjualan EV Jauh dari Harapan

Konsumen Batam Konservatif, Penjualan EV Jauh dari Harapan

Diterbitkan pada

spot_img

TERASBATAM.ID – Penjualan mobil listrik di Batam menunjukkan laju yang lamban. Konsumen di kota industri ini masih bersikap konservatif dan didominasi pembeli mobil berbahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini mencerminkan tantangan adopsi energi baru, sekaligus menjadi jeda bagi para pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk menyusun strategi jangka panjang di tengah ancaman perkembangan kendaraan listrik (EV).

Saat kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung mulai akrab dengan mobil listrik, pasar di Batam justru sebaliknya. Menurut Aini Lestari, seorang tenaga penjual (sales) dari agen tunggal pemegang merek (ATPM) mobil di Batam yang pernah berkecimpung di penjualan EV, konsumen lokal masih dihantui kekhawatiran terhadap mobil berbasis baterai.

“Masyarakat Batam sendiri menset-nya masih mobil gasoline daripada mobil listrik. Mereka belum berani beli mobil listrik,” ujar Aini di Batam, Sabtu (11/10/2025).

Aini, yang berpengalaman di dunia otomotif sejak 2021, memperkirakan bahwa pembeli yang percaya pada mobil listrik di Batam saat ini baru mencapai 20 persen dari total pasar. Ia bahkan mengaku belum pernah berhasil menjual mobil listrik saat masih bekerja di dealer yang memiliki produk EV, sementara kolega penjual mobil BBM mampu menjual minimal tiga unit per bulan.

BACA JUGA:  Era Digital: Batas Antara Jurnalis dan Influencer Semakin Kabur

Kekhawatiran utama konsumen Batam didasari dua faktor, yakni keterbatasan infrastruktur dan ketakutan pada sistem kelistrikan. Stasiun pengisian kendaraan listrik (SPKL) di Batam dinilai masih sangat terbatas, tidak seperti di Pulau Jawa yang sudah tersebar di area istirahat jalan tol. Selain itu, konsumen juga cemas akan sistem kelistrikan mobil yang rentan korslet atau terbakar.

Di luar itu, meski lebih hemat untuk jangka panjang, harga pembelian mobil listrik yang lebih mahal di awal dibandingkan mobil BBM menjadi pertimbangan besar. Alhasil, mobil listrik di Batam saat ini hanya diminati oleh kalangan menengah ke atas (middle up), sementara kalangan menengah ke bawah belum mempertimbangkan EV sama sekali.

Di tengah seretnya penjualan EV di Batam, ancaman perkembangan kendaraan listrik terhadap bisnis SPBU di Indonesia mulai menjadi agenda diskusi para pengusaha. Meskipun dampaknya saat ini belum signifikan, tantangan jangka panjang ini mulai diantisipasi.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Rachmad Muhammadiyah di sela-sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hiswana Migas di Batam, Jumat (10/10/2025).

BACA JUGA:  Hari Kopi Internasional: Sebuah Perayaan Global Cinta Terhadap Kopi

Rachmad menjelaskan, dampak EV terhadap bisnis SPBU akan sangat bergantung pada perkembangan teknologi dan kebijakan pemerintah. Ia mencontohkan, kepraktisan EV saat ini masih dipertanyakan karena pengisian daya di rumah masih membutuhkan waktu 7-8 jam.

“Pengaruhnya belum signifikan. Tapi soal seberapa cepat (dampaknya), itu seiring dengan teknologi dan kebijakan pemerintah,” ujar Rachmad.

Isu lingkungan, khususnya terkait limbah baterai EV yang besar, juga menjadi sorotan.

“Baterainya itu kalau rusak gimana? Itu pun sebenarnya dari sisi lingkungan hidup kan tidak baik juga kalau yang segede itu, itu buangnya di mana? Ada enggak pembuangan akhir yang aman buat itu?” tanyanya.

Meski demikian, Rachmad mengakui EV telah menjadi ancaman yang mulai dipikirkan oleh para pengusaha SPBU. Ancaman ini diperkuat oleh data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menyebut lebih dari 60 persen SPBU di China tutup akibat pesatnya adopsi EV di negara tersebut yang telah mencapai 50 persen.

Berdasarkan data Hiswana Migas, saat ini ada sekitar 6.500 SPBU dan 200 stasiun pengisian swasta asing yang beroperasi di seluruh Indonesia, mempekerjakan total 500.000 orang.

BACA JUGA:  Wisata Budaya dan Olahraga Padu dalam Festival Penyengat

Hingga kini, belum ada SPBU yang menutup usaha atau mengurangi pasokan BBM akibat kenaikan penggunaan EV.

Pengusaha SPBU juga mencermati arah kebijakan energi pemerintah yang mulai menggalakkan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) sebagai langkah untuk memperpanjang usia stok minyak fosil di Indonesia. Inisiatif mencampur bensin dengan etanol (Pertamax Green) dan solar dengan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) menjadi indikasi pergeseran prioritas energi nasional.

“Fosil itu kita punya stok minyak fosil sekian supaya lebih lama habisnya. Kalau bensin, kita kasih etanol. Kalau diesel, kita kasih FAME,” jelas Rachmad.

Latest articles

Krisis SDM, Sejumlah Kantor KUA di Kepulauan Riau Kosong

TERASBATAM.ID — Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) melaporkan krisis sumber daya...

Pemko Batam Sebut Sampah Jadi Penyebab Banjir di Batam

TERASBATAM.ID — Pemerintah Kota Batam mengakui bahwa banjir masih menggenangi sejumlah titik lama di...

Ramadhan Teduh, Tanpa “Sweeping” Rumah Makan

TERASBATAM.ID — Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang menegaskan dukungannya terhadap imbauan Kementerian...

KPPU Ungkap Dugaan Pelanggaran Distribusi AC AUX

TERASBATAM.ID — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkap dugaan praktik persaingan usaha tidak sehat...

More like this

Krisis SDM, Sejumlah Kantor KUA di Kepulauan Riau Kosong

TERASBATAM.ID — Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) melaporkan krisis sumber daya...

Pemko Batam Sebut Sampah Jadi Penyebab Banjir di Batam

TERASBATAM.ID — Pemerintah Kota Batam mengakui bahwa banjir masih menggenangi sejumlah titik lama di...

Ramadhan Teduh, Tanpa “Sweeping” Rumah Makan

TERASBATAM.ID — Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang menegaskan dukungannya terhadap imbauan Kementerian...