TERASBATAM.ID – Sebuah kelakar bernada sarkasme mewarnai pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Gedung Putih, Kamis (19/3/2026). Di tengah pembahasan serius mengenai stabilitas Timur Tengah, Trump melontarkan referensi sejarah Perang Dunia II yang memicu keheningan di Ruang Oval.
Insiden tersebut bermula saat seorang jurnalis Jepang melayangkan pertanyaan kritis terkait operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Sang jurnalis mempertanyakan mengapa AS tidak memberikan notifikasi terlebih dahulu kepada sekutu strategisnya di Asia dan Eropa sebelum melancarkan serangan kejutan tersebut.
Menanggapi hal itu, Trump menjawab dengan gaya khasnya yang lugas dan konfrontatif. “Kami menginginkan elemen kejutan. Siapa yang lebih tahu tentang kejutan selain Jepang? Mengapa Anda tidak memberi tahu saya tentang Pearl Harbor?” ujar Trump.
Keheningan di Tengah Pertemuan
Pernyataan tersebut merujuk pada serangan mendadak Kekaisaran Jepang ke pangkalan angkatan laut AS di Hawaii pada tahun 1941, peristiwa yang menyeret AS ke dalam kancah Perang Dunia II. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan raut wajah PM Takaichi yang sempat tertegun dengan mata membelalak saat topik sensitif tersebut diungkit.
Ruangan seketika menjadi hening sebelum Trump melanjutkan penjelasannya mengenai efektivitas serangan ke Iran. Menurut Trump, aspek kerahasiaan tersebut berhasil melumpuhkan sedikitnya 50 persen kekuatan lawan, melampaui estimasi awal intelijen.
Meski sempat terjadi momen canggung, PM Takaichi tampak berusaha meredam ketegangan. Dalam jamuan makan malam beberapa jam setelah pertemuan, ia menegaskan bahwa hubungan kedua pemimpin tetap solid. “Saya sangat percaya bahwa Donald dan saya adalah sahabat terbaik (best buddies) untuk mewujudkan tujuan bersama ini,” tutur Takaichi.
Dilema Selat Hormuz
Di balik retorika yang penuh warna, agenda utama kunjungan Takaichi ke Washington adalah persoalan pasokan energi. Jepang sangat bergantung pada stabilitas di Timur Tengah, mengingat sekitar 70 persen kebutuhan energinya melewati Selat Hormuz.
Ketegangan yang meningkat akibat perang Iran menjadi ancaman langsung bagi ketahanan nasional Tokyo. Sebelumnya, Trump dikabarkan telah meminta dukungan sekutu, termasuk Jepang dan Korea Selatan, untuk mengirimkan kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut.
Bagi Jepang, permintaan ini menempatkan pemerintah pada posisi dilematis—antara tuntutan kesetiakawanan dalam aliansi keamanan dengan AS dan batasan konstitusi pasifik yang dianutnya, di tengah bayang-bayang sejarah masa lalu yang baru saja diungkit oleh sang mitra di Gedung Putih.


