TERASBATAM.id – Lonjakan signifikan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Batam pada triwulan pertama tahun 2025 menjadi sorotan tajam. Data terbaru dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Batam mencatat 89 laporan kekerasan yang terjadi antara Januari hingga Maret 2025. Mirisnya, mayoritas korban adalah anak-anak dan perempuan, dengan kekerasan seksual mendominasi jenis kejahatan yang dilaporkan.
Jumlah laporan ini menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana UPTD PPA Batam hanya menerima 53 laporan kasus kekerasan. Dari 89 kasus yang tercatat di awal tahun ini, 64 korban adalah anak-anak, sementara 25 lainnya adalah perempuan. Dampak psikologis yang mendalam akibat kekerasan seksual menjadi perhatian utama dalam penanganan kasus-kasus ini.
Kepala UPTD PPA Kota Batam, Dedy Suryadi, menjelaskan bahwa peningkatan angka laporan ini bisa menjadi indikasi positif, di mana semakin banyak korban yang berani melapor setelah merasa mendapatkan dukungan dan kepercayaan. Namun, ia juga menyayangkan masih banyak korban yang baru memberanikan diri melaporkan kejadian traumatis yang telah mereka alami bertahun-tahun lamanya.
“Korban kekerasan, terutama kekerasan seksual, sering kali merasa bingung dan terisolasi. Butuh waktu dan keberanian yang luar biasa untuk melapor,” ungkap Dedy pada Jumat (18/4). Ia menambahkan, UPTD PPA Batam bekerja sama erat dengan psikolog dan konselor profesional untuk memberikan pendampingan psikologis yang dibutuhkan para korban dalam mengatasi trauma yang mereka alami.
Lebih lanjut, Dedy menekankan bahwa dukungan psikologis tidak hanya krusial bagi korban secara langsung, tetapi juga bagi keluarga mereka. Proses pemulihan psikologis yang komprehensif menjadi kunci utama untuk membantu korban membangun kembali kehidupan mereka.
Menurut Dedy, upaya pencegahan dan penanganan kekerasan juga memerlukan peningkatan kesadaran masyarakat melalui pendidikan tentang hak-hak perlindungan perempuan dan anak, serta pentingnya dukungan sosial bagi para korban. Stigma dari lingkungan sekitar, bahkan dari keluarga sendiri, seringkali menjadi penghalang bagi korban untuk mencari bantuan dan melaporkan kekerasan yang mereka alami.
“Faktor psikologis menjadi tantangan besar. Jika korban tidak mendapatkan pendampingan yang tepat, pemulihan mereka akan terhambat. Oleh karena itu, kami terus mendorong agar keluarga dan masyarakat lebih memahami pentingnya dukungan terhadap korban kekerasan,” tegasnya.
Dalam upaya mengatasi tingginya angka kekerasan, UPTD PPA Batam terus berupaya memperluas jaringan layanan pengaduan dan pendampingan psikologis. Kerja sama strategis dijalin dengan berbagai pihak, termasuk rumah sakit, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta aparat kepolisian. Dedy berharap bahwa dengan jaringan yang semakinSolid ini, para korban akan merasa lebih aman dan didukung, sehingga mereka tidak ragu untuk melapor lebih dini.
“Kami ingin menciptakan lingkungan yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga aman secara psikologis bagi korban kekerasan,” pungkas Dedy, menegaskan komitmen UPTD PPA Batam dalam memerangi kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayahnya.


