TERASBATAM.ID – Matahari belum lagi tergelincir ke barat, namun riuh rendah suara manusia sudah memecah kesunyian di pesisir Pantai Tiban Indah, Kecamatan Sekupang, Batam, Sabtu (17/1/2026). Di hamparan pasir bercampur lumpur yang sedang surut itu, ratusan orang tampak membungkuk. Tangan mereka sibuk mengais, mata mereka awas menatap setiap pergerakan di sela-sela karang dan lumpur basah.
Mereka bukan nelayan profesional yang sedang mencari nafkah. Mereka adalah warga biasa—ayah, ibu, dan anak-anak—yang “tersihir” oleh kekuatan jempol di layar gawai.
Kawasan di sekitar SMP Negeri 25 Batam yang biasanya lengang itu mendadak berubah menjadi destinasi wisata dadakan. Pemicunya sederhana: unggahan di media sosial yang mempertontonkan limpahan kerang di pantai tersebut. Algoritma dunia maya bekerja cepat, mengubah pesisir sederhana ini menjadi magnet bagi warga yang haus akan hiburan murah meriah.
Daya Tarik “Fomo” dan Rekreasi Murah
Rina, warga Perumahan Cinpa Asri, Tembesi, adalah salah satu dari sekian banyak orang yang rela menempuh perjalanan lintas kecamatan demi rasa penasaran. Jarak dari Sagulung ke Sekupang tak menyurutkan niatnya untuk memboyong keluarga.
“Awalnya lihat di medsos, katanya lagi banyak kerang di Pantai Tiban Indah. Penasaran, akhirnya datang. Ternyata ramai sekali, sekalian jalan-jalan sama keluarga,” tutur Rina sembari menyeka keringat.
Di tangannya, sebuah ember kecil sudah terisi setengah. Bagi Rina, kerang-kerang itu adalah bonus. Hadiah utamanya adalah momen kebersamaan keluarga yang tidak merogoh kocek dalam. Di tengah himpitan ekonomi kota industri, berburu kerang menjadi alternatif rekreasi yang membumi. Anak-anak yang biasanya terpaku pada layar ponsel, kini tertawa lepas bermain lumpur, belajar mengenali biota laut secara langsung.
“Lumayan, dapat kerang bisa dimasak. Anak-anak juga senang, bisa main di pantai. Jadi kayak wisata dadakan,” tambahnya dengan wajah sumringah.
Ironi Warga Lokal
Fenomena ini menyisakan cerita unik bagi warga setempat. Yuniarti, warga asli Tiban Indah, justru terperangah melihat lingkungan tempat tinggalnya diserbu “wisatawan lokal”. Sebagai warga yang tinggal hanya selemparan batu dari pantai, ia malah tidak menyadari potensi yang ada di halaman belakang rumahnya sendiri.
“Saya dekat dari rumah malah tidak tahu tempat ini jadi buruan warga untuk mencari kerang. Tiba-tiba jadi wisata dadakan,” ujar Yuniarti.
Ia sempat heran melihat orang-orang berbondong-bondong membawa ember dan kantong plastik. Setelah menelusuri lini masa media sosialnya, barulah ia paham. “Ternyata tempat ini viral,” gumamnya. Sebuah ironi modern di mana kabar dari dunia maya seringkali sampai lebih cepat daripada kabar dari tetangga sebelah rumah.
Bahagia Sederhana
Pemandangan di Pantai Tiban Indah hari itu menegaskan sebuah tesis sosial: bahwa kebahagiaan warga kota sebenarnya sederhana. Tak melulu soal mal megah atau resor mewah. Sebuah pantai berlumpur, air laut yang surut, dan sensasi menemukan kerang di balik pasir sudah cukup untuk menciptakan tawa kolektif.
Meski demikian, keramaian ini tetap menyimpan pekerjaan rumah. Keselamatan warga di area berlumpur dan pasang surut air laut yang bisa berubah sewaktu-waktu perlu diwaspadai. Namun, untuk hari itu, warga Batam memilih untuk menikmati momen.
Pantai Tiban Indah mungkin tidak memiliki pasir putih sehalus sutra atau fasilitas bintang lima. Namun, pada Sabtu itu, ia menawarkan sesuatu yang mahal: pengalaman bersama dan jeda sejenak dari rutinitas, yang ironisnya, bermula dari hiruk-pikuk dunia maya.
[kang ajank nurdin]


