Proyek Semikonduktor US$26,7 Miliar Terganjal Kewenangan BP Batam
TERASBATAM.ID – Konsorsium perusahaan asal Jerman dan Amerika Serikat (AS) mendesak pemerintah Indonesia untuk mempercepat penerbitan izin pembangunan fasilitas semikonduktor di Batam, Kepulauan Riau. Kecepatan izin menjadi krusial agar konstruksi proyek investasi senilai US$26,7 miliar tersebut dapat dimulai sesuai rencana pada awal 2026.
Proyek ini melibatkan tiga konsorsium, yaitu PT Quantum Luminous Indonesia, PT Terra Mineral Nusantara, dan Tynergy Group. Fasilitas manufaktur ini direncanakan dibangun di Wiraraja Green Renewable Energy and Smart-Eco Industrial Park di Pulau Galang
Presiden Direktur Quantum Luminous Indonesia, Walter Grieves, dalam pernyataan persnya pada Selasa (2/12/2025), mengindikasikan bahwa perizinan yang dibutuhkan masih belum diterbitkan oleh Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) at the start of 2026”, pending approval from the Batam Free Trade Zone Authority (BP Batam), Grieves said he had sent letters twice to Investment and Downstream Minister Rosan Roeslani and had signed an investment commitment with BP Batam, but implied that the necessary permits had yet to be issued]. Padahal, konsorsium telah menandatangani komitmen investasi dengan manajemen Wiraraja dan melakukan pertemuan dengan pihak BP Batam sejak Mei 2024.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menanggapi bahwa proses perizinan di Indonesia sejatinya “tidak akan memakan waktu lama dan tidak akan sulit” berkat regulasi yang memungkinkan kementeriannya mengambil alih proses penerbitan jika lembaga terkait gagal memenuhinya sesuai batas waktu.
Namun, Rosan mengakui adanya kendala khusus dalam kasus ini. Proyek tersebut berada di Batam, yang merupakan Free Trade Zone (FTZ) atau Zona Perdagangan Bebas. Batam memiliki otoritas tersendiri (BP Batam) untuk menangani penerbitan izin, yang berbeda dari proses terpusat yang diterapkan di sebagian besar wilayah lain.
Proyek ambisius ini mencakup fasilitas sel surya, silicon wafer, pabrik pemrosesan kuarsa, dan fasilitas semikonduktor, sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia pusat manufaktur strategis.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya juga telah menekankan urgensi pembangunan industri semikonduktor untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Airlangga mengatakan AS sangat tertarik berpartisipasi dalam pengembangan industri chip di Indonesia. Investasi di sektor ini dinilai penting untuk mengakhiri ketergantungan Indonesia pada ekspor komoditas dan bahan mentah.


