TERASBATAM.ID – Realisasi inflasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menutup tahun 2025 dengan tetap berada dalam rentang sasaran pemerintah1. Meskipun mengalami kenaikan pada akhir tahun akibat faktor musiman dan ketidakpastian global, koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dinilai berhasil meredam lonjakan harga yang lebih ekstrem.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri pada Desember 2025 mencatatkan inflasi sebesar 1,14 persen (month-to-month/mtm)3. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,23 persen (mtm)4. Secara tahunan, inflasi Kepri bertengger di angka 3,47 persen (year-on-year/yoy).
Kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi Desember dengan andil 0,85 persen6. Komoditas seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan cabai merah mengalami kenaikan harga akibat terbatasnya pasokan dari daerah sentra di Sumatera bagian utara yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik global mendorong kenaikan harga emas dunia, yang berimbas pada inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,63 persen (mtm)8. Selain itu, tingginya mobilitas masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) turut memicu kenaikan tarif transportasi sebesar 1,13 persen (mtm).
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri memproyeksikan beberapa faktor pendorong inflasi yang perlu diwaspadai memasuki Januari 202610101010. “Tren kenaikan harga emas dunia yang masih berlanjut dan normalisasi tarif angkutan laut pasca-diskon transportasi menjadi perhatian utama,” tulis Plh. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kepri, Ardhienus, dalam siaran persnya, Senin (5/1/2026).
Namun, tekanan inflasi diharapkan dapat tertahan oleh penurunan harga BBM non-subsidi per 1 Januari 2026 serta normalisasi permintaan pangan pasca-hari besar keagamaan nasional12. Melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif), inflasi tahun 2026 ditargetkan tetap terjaga dalam rentang 2,5±1 persen.


