TERASBATAM.ID – Kenaikan harga komoditas pangan, terutama cabai, telah memicu keresahan di kalangan pedagang dan masyarakat Kota Batam. Sejak pasokan dari sentra di Sumatera terputus total akibat bencana banjir dan tanah longsor, harga cabai di pasar-pasar tradisional seperti Batuaji, Sagulung, Batam Centre, dan Nagoya melonjak hingga dua kali lipat.
Syahrial, seorang pedagang toko kelontong di perumahan Baloi Mas, mengaku kewalahan karena harus menjual cabai dengan harga lebih mahal, membuat pembeli komplain.
“Uang belanja sehari habis untuk beli cabai sekarang. Semuanya mahal,” keluh Rita, seorang warga di Batuaji. Kekhawatiran juga muncul menjelang Natal dan Tahun Baru karena lonjakan harga ini mengancam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Pasokan Sumatera Putus, Harga Meroket
Kenaikan harga yang terjadi mulai Jumat (28/11/2025) hingga Minggu (07/12/2025) ini dipicu oleh gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem, banjir, dan rusaknya akses jalan, seperti jembatan putus, di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
Data menunjukkan kenaikan harga yang signifikan:
- Cabai Setan: Melonjak tajam ke kisaran Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram.
- Cabai Merah Besar: Mencapai Rp 75 ribu per kilogram.
- Cabai Rawit: Tembus Rp 75 ribu per kilogram.
- Cabai Merah (Pasar Tradisional): Mencapai Rp 120 ribu per kilogram.
- Cabai Hijau (Pasar Tradisional): Mencapai Rp 100 ribu per kilogram.
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Batam, Wahyu Daryatin, merinci bahwa kebutuhan cabai Batam untuk konsumsi mencapai sekitar 15 ton per hari, dan total kebutuhan pasar bahkan bisa melebihi 20 ton.
Mengandalkan Suplai Alternatif
Wahyu menjelaskan, karena pasokan dari Sumatra—yang selama ini menjadi tumpuan—terganggu, Batam terpaksa mengandalkan suplai alternatif dari Jawa dan Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Mataram.
Kondisi ini diperparah oleh sifat cabai yang hanya memiliki ketahanan 3-5 hari, menjadikannya sangat rentan terhadap gangguan distribusi. Belum ada kepastian kapan pasokan dari Sumatra dapat kembali normal, mengingat parahnya kondisi bencana di sana.
Warga seperti Hestiyani, ibu rumah tangga di Batam, mengaku terpaksa mengurangi konsumsi makanan pedas dalam menu harian untuk menghemat pengeluaran belanja.


