Kasus Jeon Hye Bin: Mengapa Maaf Lebih Penting dari Amarah
Oleh: HESTIYANI WULANDARI (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Sahid)
Sebuah insiden kriminal yang dialami aktris Korea Selatan, Jeon Hye Bin, saat berlibur di Bali, sekilas hanyalah berita kriminal biasa. Namun, yang membuat kisah ini layak dibedah bukanlah pencopetnya, melainkan respons sang aktris: alih-alih marah, ia justru meminta maaf dan mengungkapkan kekhawatiran bahwa insiden itu merusak citra Bali.
Respons ini, yang sekilas tampak berlebihan, adalah cerminan kompleks dari dinamika komunikasi antarbudaya (KAB), yang melibatkan kecemasan personal, etika kolektif, dan konstruksi citra sosial global.
Mengelola Kecemasan dan Ketidakpastian
Ketika seseorang berada di ruang budaya yang asing, pengalaman negatif tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga kecemasan dan ketidakpastian. Ini dijelaskan dalam Anxiety/Uncertainty Management Theory (AUM) oleh William B. Gudykunst.
Saat insiden kriminal terjadi, kecemasan berlipat ganda: apakah tempat ini aman, bagaimana masyarakat setempat bereaksi, dan bagaimana publik global akan menafsirkan pengalaman itu?.
Sebagai figur publik internasional, Jeon Hye Bin sadar bahwa pengalamannya berpotensi menjadi narasi global. Pernyataan publiknya dapat memengaruhi persepsi jutaan orang tentang Bali. Dari sudut pandang AUM, permintaan maafnya dapat dipahami sebagai upaya mengelola kecemasan dan ketidakpastian, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi publik yang menyimak kisahnya.
Facework dan Harmoni Kolektif
Namun, reaksi Jeon Hye Bin tidak berhenti pada pengelolaan emosi saja. Di sinilah Face Negotiation Theory oleh Stella Ting-Toomey memberikan kacamata penting.
Dalam budaya kolektivistik yang dianut masyarakat Asia Timur, menjaga “wajah” (reputasi kolektif dan relasi sosial) seringkali lebih penting daripada mengekspresikan ketidakpuasan personal.
Permintaan maaf Jeon Hye Bin dapat dibaca sebagai praktik facework—sebuah upaya untuk menjaga kehormatan tuan rumah. Ia secara simbolik menjaga “wajah” pariwisata Bali agar pengalaman pribadinya tidak menimbulkan rasa malu atau stigma buruk. Ia memilih berposisi sebagai pihak yang menjaga harmoni relasi antarbudaya, alih-alih menjadi korban yang menuntut simpati.
Menjaga Representasi Sosial Bali
Pilihan ini menjadi signifikan dalam konteks pariwisata, di mana satu narasi negatif dapat cepat berubah menjadi stigma kolektif. Social Representation Theory (Serge Moscovici) menjelaskan bahwa masyarakat membangun makna sosial—misalnya, citra Bali—melalui representasi, yakni bagaimana suatu peristiwa dibicarakan dan disederhanakan.
Insiden pencopetan ini, jika dibiarkan tanpa narasi penyeimbang dari aktris itu sendiri, akan berpotensi direpresentasikan sebagai “Bali tidak aman”.
Pernyataan maaf dan empatinya dapat dilihat sebagai upaya mengarahkan representasi sosial ke arah yang lebih proporsional, yakni bahwa insiden tersebut adalah peristiwa individual, bukan cerminan budaya atau masyarakat Bali secara keseluruhan.
Pariwisata sebagai Ekosistem Kepercayaan
Kasus Jeon Hye Bin mengingatkan kita bahwa KAB tidak selalu hadir dalam bentuk diplomasi resmi, tetapi sering muncul dalam situasi sehari-hari di ruang wisata.
Sensitivitas dan facework sang aktris menjadi aset penting dalam menjaga citra pariwisata Indonesia. Namun, tanggung jawab terbesar tetap berada di tangan tuan rumah.
Pemerintah daerah dan pusat perlu memandang keamanan wisata sebagai bagian integral dari strategi komunikasi pariwisata, bukan sekadar urusan ketertiban umum. Ekosistem ini mencakup pencegahan kriminalitas yang proaktif, peningkatan kehadiran aparat yang humanis, dan sistem pelaporan yang ramah wisatawan.
Ketika negara hadir sejak awal sebagai pengelola pengalaman wisata yang aman dan bermartabat, maka cerita tentang Indonesia di mata dunia tidak akan dibentuk oleh kejadian negatif yang terisolasi, melainkan oleh keseriusan kita menjaga kepercayaan, kehormatan, dan rasa aman bersama.


