TERASBATAM.ID – Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut (AL) meluncurkan Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2025 untuk mendistribusikan uang tunai dan mengedukasi masyarakat di pulau-pulau terdepan, terluar, dan terpencil (3T) di Kepulauan Riau (Kepri). Pelepasan KRI Hasan Basri – 382 yang mengangkut uang rupiah dan tim ekpedisi dilakukan di Pelabuhan Bintang 99, Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (22/07/2025).
Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Muhammad Anwar Bashori, dan Komandan Lantamal IV Batam, Laksamana Pertama TNI Berkat Widjanarko, serta Asisten III Pemprov Kepri, Misni, secara resmi melepas tim ekspedisi menggunakan KRI Hasan Basri-382.
Anwar menjelaskan, ekspedisi ini membawa modal awal Rp 13 miliar untuk diedarkan selama lima hari. Ia menekankan pentingnya menjaga ketersediaan uang tunai yang berkualitas dan terpercaya di seluruh pelosok NKRI, mengingat tantangan geografis Indonesia yang memiliki 17 ribu pulau dan minimnya akses ke wilayah 3T.

“Kami sudah merepotkan Angkatan Laut sejak 2012 untuk melakukan kas keliling mengedarkan uang ke wilayah-wilayah 3T,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan menarik uang lama yang “lengket” dan menggantinya dengan uang baru, serta memastikan tidak ada transaksi non-Rupiah.
Senada, Laksamana Pertama TNI Berkat Widjanarko, dalam sambutan Asisten Operasi KSAL, menegaskan kolaborasi ini sebagai upaya menjaga kedaulatan bangsa dan mendukung pembangunan nasional. Ia menyebut KRI Hasan Basri-382 akan menempuh rute sejauh 1.105 mil laut, mengunjungi Pulau Tarempa (Anambas), Pulau Midai, Pulau Subi Besar (Natuna), Pulau Tambelan (Bintan), dan Pulau Singkep (Lingga).
Sementara itu, Asisten III Pemprov Kepri, Misni, menambahkan bahwa Kepri merupakan provinsi dengan wilayah lautan terluas (98%) dan 22 pulau terluar. Ia mengapresiasi upaya BI dan TNI AL sebagai komitmen negara untuk hadir menjaga kedaulatan, terutama di tengah kekhawatiran penggunaan mata uang asing di daerah perbatasan. Misni juga melaporkan inflasi Kepri per Juni 2025 terkendali di 1,32%, menunjukkan stabilitas ekonomi di tengah dinamika global.


