TERASBATAM.ID – Di tengah pusaran media sosial, sebuah video sederhana menjadi cerminan kompleksitas interaksi global: sekelompok pria imigran merokok di ruang publik Jepang dan ditegur seorang petugas. Teguran itu disampaikan dengan suara lembut khas Jepang, namun berujung pada ketegangan singkat, di mana salah satu pria India meninggikan suara. Mengapa teguran yang sopan bisa terasa begitu canggung dan panas?
Sekilas, ini hanya soal rokok. Namun mengapa video itu terasa begitu tegang, begitu tidak biasa? Jawabannya terletak pada konsep sederhana yang sangat manusiawi: “muka” atau “face” yang dalam istilah Stella Ting-Toomey adalah “the claimed sense of favorable social self-worth that a person wants others to have of them” (Ting-Toomey, 2005). Dengan kata lain, muka adalah harga diri kita di mata orang lain.
Di sinilah cerita pendek itu berubah menjadi panggung besar dari sebuah negosiasi budaya, sebagaimana kita pahami bahwa perbedaan norma, nilai, gaya komunikasi, dan identitas adalah inti dari proses negosiasi antarbudaya .
Jepang dan Seni Menjaga Harmoni
Bagi masyarakat Jepang, harmoni sosial adalah nilai yang dijaga erat. Dalam budaya seperti ini, mempertahankan muka berarti menghindari konfrontasi. Teguran harus dilakukan tanpa mempermalukan. Maka petugas berbicara pelan, lembut, memilih kata dengan hati-hati, berusaha agar semua pihak tetap “selamat” secara sosial.
Dalam konteks ini, Ting-Toomey menyebut bahwa budaya kolektivis seperti Jepang cenderung menggunakan strategi avoiding atau obliging untuk menjaga hubungan dan menghindari kehilangan muka:
“Collectivistic cultures tend to emphasize mutual-face or other-face concerns and prefer conflict strategies that preserve relational harmony.” (Ting-Toomey, 1988).Dengan kata lain, petugas itu mungkin merasa sudah melakukan tindakan paling sopan dan paling tepat secara budaya.
India dan Keberanian Menunjukkan Diri
Sebaliknya, reaksi pria India itu bisa dipahami lewat pola komunikasi budaya yang lebih langsung dan ekspresif. Dalam beberapa konteks budaya Asia Selatan, respon tegas, suara lantang, atau sikap ingin berargumen bukan berarti agresif, melainkan cara mempertahankan muka pribadi. Ting-Toomey menjelaskan bahwa budaya yang lebih individualis cenderung memprioritaskan self-face dan menggunakan gaya komunikasi lebih langsung ketika menghadapi konflik, “Individualists tend to adopt dominating conflict styles because they focus more on self-face needs.” (Ting-Toomey, 2005). Maka ketika ditegur di ruang publik, pria india itu mungkin merasa harga dirinya terancam. Reaksi emosional muncul bukan karena ia ingin melawan, tetapi karena ia ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak sedang dipermalukan.

Salah Baca Sinyal, Salah Duga Niat
Yang membuat situasi itu meledak bukanlah rokok, melainkan salah tafsir antar budaya. Petugas Jepang mengira ia sedang menegur dengan cara paling sopan. Pria India mengira ia sedang diperlakukan tidak hormat. Keduanya sedang menjaga muka, tetapi dengan dua bahasa budaya yang berbeda.
Inilah inti Face Negotiation Theory:
“Conflicts often arise not from the content of the message, but from the way individuals attempt to maintain face.” (Ting-Toomey & Oetzel, 2001).
Jika kita melihatnya dari kacamata ini, video viral itu bukanlah konflik kecil, melainkan contoh nyata dari bagaimana manusia yang berasal dari dua budaya berbeda bisa salah memahami satu sama lain hanya dalam hitungan detik.
Mindfulness dan Keselarasan Identitas
Dalam konsep Mindful Identity Attunement (MIA) digambarkan sebagai kemampuan untuk reflektif, sadar terhadap perbedaan makna budaya, dan mampu menyesuaikan gaya komunikasi dalam interaksi antarbudaya . Inilah keterampilan yang tidak muncul dalam insiden kecil tersebut, baik dari petugas maupun dari pria yang ditegur.
Seandainya mindfulness hadir, reaksi keduanya mungkin akan berbeda. Sang pria India dan kelompoknya mungkin memahami bahwa teguran halus itu bukan penghinaan. Sedangkan petugas Jepang mungkin menyadari bahwa suara keras itu bukan agresi, melainkan ekspresi budaya berbeda.
Kesadaran seperti inilah yang dibahas sebagai inti dari keberhasilan negosiasi budaya, yaitu pemahaman bahasa tubuh, empati, keterbukaan, dan kemampuan membaca identitas pihak lain agar tidak terjadi konflik yang tidak perlu .
Dari Jalanan Jepang untuk Dunia yang Lebih Besar
Video itu kemudian menjadi cermin yang memantulkan bagaimana manusia dari budaya berbeda berusaha mempertahankan identitasnya dengan cara yang tidak selalu kompatibel. Bukan karena salah satu lebih baik dari yang lain, tetapi karena keduanya dibesarkan dalam dunia yang berbeda. Dalam konteks ini, negosiasi budaya bukan lagi sekadar konsep akademik, melainkan sesuatu yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kasus dalam video viral ini mengingatkan kita bahwa dalam komunikasi antarbudaya ada hal-hal yang harus kita menegosiasikan seperti bahasa, identitas, kebiasaan, dan posisi sosial dalam budaya baru. Hal yang sama dialami siapa pun yang berpindah budaya, termasukpara imigran pria India di Jepang.
Pada akhirnya, benturan budaya yang terekam kamera itu memberikan pelajaran berharga, bahwa interaksi lintas budaya membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan aturan. Ia membutuhkan kepekaan, empati, dan kesadaran bahwa setiap orang membawa “muka” yang ingin ia jaga. Ketika kita menyadari hal ini, kita akan lebih berhati-hati membaca isyarat, lebih sabar menghadapi perbedaan, dan lebih mindful dalam memberikan respons.
Karena pada akhirnya, benturan budaya bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.Perbedaan justru bisa menjadi peluang untuk memperkaya pengalaman bersama dan membentuk identitas yang lebih kuat sebuah identitas hibrid yang mampu hidup di berbagai dunia budaya sekaligus. Dan mungkin, lewat video itu, kita diingatkan bahwa memahami budaya orang lain bukan lagi sekadar teori atau pengetahuanmelainkan keterampilan hidup.
[Hestiyani Wulandari, Penulis adalah Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi, Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Jakarta]


