Di era viralitas, tawa sering kali melesat lebih cepat daripada klarifikasi. Stand-up comedy bukan lagi sekadar urusan lucu, melainkan medium kritik sosial dan politik. Namun, tayangan seperti Mens Rea milik Pandji Pragiwaksono di Netflix memicu pertanyaan krusial: Kapan satire berhenti menjadi kritik dan mulai menjadi alat normalisasi kebencian?
Kalimat “namanya juga bercanda” kerap menjadi tameng saat kritik mulai melukai. Padahal, dalam komunikasi, tidak ada pesan yang benar-benar netral. Saat makian atau ejekan fisik dijadikan bahan lawakan, komedi berhenti menjadi alat pembebasan dan berubah menjadi kekerasan simbolik—kekerasan yang merusak martabat tanpa meninggalkan luka fisik.
Benturan Budaya: Barat vs Timur
Indonesia adalah masyarakat high-context culture. Di sini, cara bicara sering kali lebih penting daripada isi pesan. Kritik boleh keras, namun idealnya disampaikan secara berlapis tanpa “menelanjangi” individu di ruang publik.
Gaya stand-up Barat yang konfrontatif tanpa filter kultural sering kali mengalami disonansi saat mendarat di Indonesia. Publik kita tidak anti-kritik; mereka senang diajak berpikir cerdas, namun menolak cara mengkritik yang terasa merendahkan dan tidak beradab.
Satire terbaik dalam sejarah bekerja dengan ironi dan paradoks, bukan makian. Bergantung pada ejekan personal sebenarnya bukan tanda keberanian, melainkan bentuk kemalasan intelektual. Tawa memang tercapai, tapi dengan biaya sosial yang mahal: rusaknya harmoni dan etika lisan yang dijunjung nilai agama.
Kesimpulan: Kritik Ide, Bukan Orang
Kebebasan berekspresi bukan berarti bebas dari penilaian etis. Kita perlu meningkatkan standar komedi politik kita. Kritiklah kebijakan dan sistem, namun hindari merendahkan martabat personal.
Benar secara kebebasan berekspresi belum tentu benar secara adab. Seni tertinggi dari satire bukanlah seberapa keras kita menertawakan orang lain, melainkan seberapa dalam komedi itu mampu membuat kita bercermin.


